Tentang Perjalanan

"Hidup adalah tentang sebuah perjalanan, dimana seseorang yang diam menetap tidak akan bisa berkembang sedangkan yang berpindah-pindah selalu mendapatkan kejutan dari sang pencipta yang membuat kita berbeda dari orang lain."

Tentang Kehidupan

"Jangan takut oleh kemarahan orang sehingga kita takut berkata dan bersikap jujur."

Tentang Kesungguhan

"Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kesungguhan."

Tentang Kebijaksanaan

"Orang bijak menemukan kebijaksanaannya melalui kerasnya kehidupan."

Tentang Kesabaran

"Sejak kita menginginkan kebahagiaan dan kesuksesan, sejak itu pula kesabaran menjadi kewajiban kita."

Tampilkan postingan dengan label Catatanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatanku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2016

Jangan menebar rasa, Karena Perempuan itu sangat perasa


"Aku hanya menganggapnya sahabat, tidak lebih. Terlalu berlebihan jika dia menganggap ada yang spesial" ujar Ray datar tanpa rasa bersalah sedikitpun. 

Ego perempuanku muncul, dengan sedikit kasar diktat yang sedari tadi damai dalam dekapan, kuhempaskan ke meja kantin fakultas siang itu. Lelaki jangkung berkaca mata minus ini  terperanjat. Sepertinya dia tak menyangka kalau aku yang tidak terbiasa bersuara keras, sesekali bisa menggelegar. 

Kurobah posisi untuk meredakan emosi. Duduk. Diapun serta merta mengikuti. Bayangan tangis Rini sahabatku kembali menyeruak. Sesungukan semalam menumpahkan perasaannya padaku.

"Wi, rasa ini sangat menggangguku. Aku tahu ini belum waktunya. Tetapi coba kamu perhatikan bagaimana dia memperlakukanku. Mengajak diskusi saban hari, whatsappin aku hanya sekedar untuk menanyakan sudah makan atau belum?. Bahkan dia sering deketin keluarga aku. Salahkah jika aku menaruh harapan? Tapi sampai sekarang dia tak pernah mengungkapkan perasaan dan maksudnya padaku. Semua mengambang begitu saja. Padahal dia kan sudah pasca sarjana, dan akupun juga sudah dewasa. Aku suka sama dia, Wi..selalu ada yang kurang jika sekali saja dia tak menghubungi. Aku tersiksa dengan perasaan ini. Untuk menanyakannya langsung tentu ini akan menjatuhkan harga diriku." Kubiarkan Rini mengurai gumpalan rasa yang mengganjal hatinya. "Ga apa-apa, Rin. Jadikan saja aku tong sampah untuk semua masalah-masalahmu. Sebisanya akan kudengar, "batinku. 

"Kamu perlu orang ketiga, Rin" jawabku cepat.

"Buat apa?" wajah gadis berhijab ungu dengan motif abstrak ini yang sedari tadi menunduk tiba-tiba tegak menatap lurus padaku

"Untuk menanyakan bagaimana perasaannya padamu. Setidaknya dengan demikian kamu tidak membuang-buang waktu dalam ketidakpastian." Jawabku

"Tidakkah itu menjatuhkan harga diriku? Kamu ada-ada saja,Wi. Jangan deh" cegahnya.

"Kamu yakin? Sekarang usiamu berapa? Setidaknya dengan adanya kepastian ya atau tidak kamu bisa putuskan apa langkah selanjutnya. Jika kalian punya rasa yang sama. Menikah. Jika tidak lupakan" tegasku. 

"Terserah kamu, deh. Tapi cukup kamu dan dia saja membicarakannya. Jadi aku tidak begitu terbebani atas apapun jawabannya." ujar Rini pasrah.

***

Buat Mr. Ray dan Ray-Ray lain diluaran sana. 

Perempuan itu makhluk sensitif dan perasa. Fitrahnya begitu. Perasaannya selangkah lebih maju didahulukan dari pikirannya. 

Contohnya saja ketika seorang ibu melihat anaknya yang baru belajar berjalan, hampir jatuh di tangga. Dia tidak akan berpikir panjang saat itu sedang melakukan apa, yang penting anaknya segera diselamatkan. Bisa saja pisau yang sedang dipegang untuk mengiris bawang ketika it,u dilempar serampangan. Lalu langsung melompat untuk merangkul anaknya. Demikianlah perempuan. Halus. 

Jadi, lelaki-lelaki bijaksana. Jika sekiranya belum ada keinginan untuk serius dan berniat menikahinya, janganlah tebar pesona kemana-mana. Memberi perhatian lebih, boros dalam berkomunikasi, mengumbar pujian atau apalah itu namanya. Mungkin bagimu itu hal biasa, tapi bagi perempuan hal ini akan menjadi luar biasa. Perempuan itu hiperbola. Sedikit bisa diolah menjadi luar biasa. Apalagi jika banyak. Tentulah dia akan menganyam asa dihatinya. 

Kamu bisa saja ketika ditantang menjawab "Ah, tak ada maksud apa-apa. Ini hanya sebatas perhatian sebagai teman,"

Entengnya..
Tahukah kamu?
Dibalik sikapmu yang begitu..telah terangkai kata dalam bundelan-bundelan catatan harian. Telah basah bantal oleh tangis harapan. Telah terbuang waktu akan kesia-siaan. 

Jangan menebar rasa, karena perempuan itu sangat perasa. 

















Kamis, 11 Agustus 2016

Jangan Lukai Hatinya, Doakan Sajalah..



Wajah lelah itu hanya menunduk, sambil tetap tersenyum. Aku tahu, kalimat yang dilontarkan oleh seseorang barusan begitu membebani perasaannya. 

"Harusnya carilah teman (suami), biar tak lagi sendirian. Mungkin saja dengan demikian penyakit akan sembuh". 

Sebuah kalimat penuh perhatian (barangkali), ketika melihat sahabat yang sudah sangat 'matang' masih hidup sendiri. Katanya 'peduli', tetapi tidakkah ada tempat yang sunyi untuk sekedar menasehati?. 

Kucoba alihkan pembicaraannya, agar tidak diteruskan hingga membuat wajah pucat itu semakin terluka. 

"Minta saja temani sama saudara, Aisyah..takutnya jika di rumah sendiri, lalu tiba-tiba pusingnya kambuh ga da yang tahu", sambil memegang tangannya kupilih kata agar gadis cantik ini tak lagi menunduk. Aku berharap dia paham arti genggaman tanganku lewat bahasa kalbu, " sabar ya, kawan". Ku lihat dia tersenyum, cahaya kembali membinar di bola mata perempuan berjiwa kuat ini.

Engkau cantik kawan, sholehah dan baik budi. Jika saat ini separuh Dien belum tersempurnakan, itu bukan salahmu. Akan ada saat yang tepat dengan skenario spektakuler yang Allah siapkan. Rasaku membatin.

Entah 'semangat' dari mana, yang tadi berceloteh kembali menimpali.
"Beneran, jika sudah ada pasangan, jadi yang nyesek di kepala bisa keluar", sambungnya berapi-api.

Astaghfirullah..

Ingin kumenimpuknya dengan bantal yang ada didekatku, biar ia diam dan tak lagi mengeluarkan kalimat yang sangat tidak sesuai dengan situasi dan kondisi.


***

Skenario hidup manusia itu berbeda-beda. Ada yang lancar jaya bahkan terlihat tanpa halangan. Pendidikan lancar, setelah wisuda langsung kerja, ga berapa lama berselang lalu ketemu jodoh. Sebulan menikah langsung hamil dan ditahun pertama pernikahan sudah punya anak. Ada juga yang tersendat-sendat, tapi tidak di semua bagian pastinya.  Bahkan ada yang tertatih-tatih hingga letih. Tetapi tahu kah kita?, semua yang dijalani tak pernah luput dari pengamatan-NYA.

Dia, Allah yang Maha Kuasa, tak pernah tidur, tak pernah bosan mendengar rintihan-rintihan hamba-NYA. Kasih sayangnya tiada batas. meski terkadang kita selalu bertanya "kenapa?". Padahal Allah yang Maha Tahu, segala yang terbaik untuk kita.

Heeeiii!
Anda siapa?
Menceramahi, melukai, merasa paling tahu?

Sampai dimana pengetahuanmu tentang perih yang menyembilu?
Sampai dimana engkau tahu setiap kegalauan yang menyiksa itu?
Tahukah engkau secara detail permasalahan yang berjibaku?

Jangan tambah lagi luka di hatinya.
Jangan lagi bebani dia dengan pertanyaan-pertanyaan tak perlu,

Cukup doakan, atau bantulah dalam senyap.
Karena tentang iman, Allah penilainya. 



*Bersama Lembayung, Padang 110816


Senin, 01 Agustus 2016

Berapa Lama Sebaiknya Tinggal Di Rumah Orang Tua Setelah Menikah?



Pernikahan, adalah momen yang dinanti-nanti oleh siapapun yang masih lajang atau belum memiliki pasangan. Bagaimana tidak, hidup bersama dalam ikatan pernikahan jauh lebih indah. Beban hidup bisa dipikul bersama, berbagi cerita, suka dan duka. Akan lebih bermakna  lagi jika segala keindahan itu ditujukan semata-mata karena Allah, diniatkan sebagai ibadah, berharap kehidupan yang penuh berkah. Insyaallah..

Menikah, tidak cukup hanya bermodalkan hasrat dan keyakinan semata. Tetapi yang  lebih penting adalah menyatukan visi dan misi rumah tangga yang akan dibangun. Itulah sebabnya, dalam Islam perlu dilakukan proses ta’aruf singkat (bukan berkhalwat), yang salah satu tujuannya adalah mengemukakan visi dan misi tersebut. Diawal perlu disampaikan, Rumah Tangga seperti apa yang akan dibangun, konsepnya bagaimana, langkah kedepannya seperti apa. Jika sudah ditemukan persamaan konsep, silahkan lanjut ke proses khitbah (meminang).

Anda dan orangtua setidaknya terpaut perbedaan usia minimal 17 tahunan. Hidup dizaman yang berbeda dan pastinya akan melahirkan pola pikir yang tak sama. Di dunia, meski kembar identik sekalipun, pasti akan memiliki perbedaan sifat dan sikap. Tak ada yang sama persis. Dalam pernikahan, perbedaan-perbedaan inilah nantinya yang akan melahirkan ‘pergesekan”.

Seminggu dua minggu setelah menikah, adalah masa-masa manis beradaptasi dengan keluarga yang baru saja disatukan. Masih banyak toleransi dan saling memahami.  Jika setelah resepsi pernikahan kita tinggal di rumah orang tua atau mertua, paling lama hanya butuh waktu tiga bulan hingga melahirkan sebuah penilaian. Setelah itu akan muncul ‘ekspresi” dan intervensi. Entah itu tentang basa basi, tatakrama atau hal-hal lain yang bisa saja dikomentari pihak ketiga atau sebaliknya. Itu mutlak ada. Yang berbeda hanyalah cara mengungkapkannya. Ada pihak yang ekspresif, ada juga yang diam tapi sewaktu-watu dapat meledak dan merusak. Apalagi jika di rumah tersebut juga ada saudara ipar dan dan keluarga lainnya. Semakin banyak lah pasang mata yang memandang lalu berkumandang.

Jadi jika anda adalah pasangan muda yang hendak menikah, jika tak ada hal lain yang mengharuskan anda tinggal serumah dengan orang tua ataupun mertua. Segeralah berfikir untuk mencari rumah untuk tinggal berdua. Maksimal 3 bulan setelah pernikahan. Meskipun rumah kontrakan,  itu jauh lebih baik. Karna selain melatih diri untuk lebih mandiri, anda juga  akan lebih mudah mengayuh biduk menuju arah yang disuka.  Kita sendiri yang tentukan. Karena terkadang, justru dengan berjaraklah ikatan kekeluargaan itu terasa kuat. Pastinya, dengan tetap menjaga silaturahim.

Percayalah..begitu akan lebih baik.



Padang, 2 Agustus 2016

Minggu, 31 Juli 2016

Lelah Yang Belum Bermuara (Kisah Dahsyatnya Kasih Sayang Seorang Ibu)



“Antrian nomer berapa, nak?”, sapa perempuan yang baru saja duduk disebelahku. Dari awal masuk pintu ruangan yang begitu sejuk ini, ibu berusia skitar 70 tahunan ini memang telah menarik perhatianku dan mungkin juga orang-orang yang duduk berjejer menanti giliran nomernya dipanggil.

“Nomer 46 B, bu. Klo ibu nomer berapa?”, kubalik bertanya.
“108 A, nak”, jawabnya sembari memperlihatkan kertas kecil hasil print out ketika masuk tadi.

Kami sama-sama sedang antri disebuah bank. Sengaja pulang kantor kulangsung kesini, minta pergantian kartu ATM yang sudah melewati limit waktu. Transaksi perbankan sekarang memang sangat mudah, bahkan  seseorang bisa berkirim uang dari mana saja dan kapan saja dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Praktis, aman dan nyaman.

“Ooo, ibu nanti ke teller ya?. Klo saya ada keperluan sama customer servicenya, bu”, sambungku.
“Iya,nak..ibu mau berkirim uang untuk anak ibu. Dia di Jakarta”, jawabnya tersenyum sambil merapikan jilbab yang sedikit miring hingga anak-anak rambut yang mulai memutih menyembul keluar. Matanya terlihat lelah. Tiba-tiba aku teringat nenek. Kira-kira beliau seusia ibu ini.

Antrian yang cukup lama membuatnya punya kesempatan bercerita. Aku tidak banyak bertanya, hanya saja si ibu menyambung sendiri keterangan demi keterangan. Tiba-tiba ku tersenyum sendiri. Teringat masa-masa yang dilalui. Sejak SMP sampai sekarang  aku sering dijadikan “tong sampah” kisah-kisah. Meskipun tak mengerti apa yang sedang mereka ceritakan, tetapi yang kulakukan hanya lah mendengar. Setelah selesai, mungkin hanya bisa sedikit memberi saran. Itupun jika aku paham. Entah tentang pacar-pacar mereka, kejahatan seksual yang mereka alami atau kisah-kisah rumah tangga dari yang tragis sampai berseri namun penuh duri. Ah..inilah yang namanya hidup. Rangkaian kisah demi kisah yang pasti berakhir. Kadang karena keseringan mendapat cerita inilah yang membuatku sedikit hati-hati dalam segala hal.

“Anak ibu empat orang, 2 pasang. Semuanya merantau. Bapak sudah lama meninggal. Tapi sanak saudara ada disekitar rumah, jadi ibu tak kesepian. 3 orang anak ibu sudah menikah. Semuanya macam-macam perangainya. Mereka sudah berkeluarga tapi sering minta uang pada ibu. Ada-ada saja alasannya. Yang namanya seorang ibu, tentu tak sampai hati kalau anak sudah mengeluh kesusahan. Syukurlah ibu masih mampu berdagang. Sedikit-sedikit uang ibu tabung. Tapi setiap terkumpul, ada saja anak yang membutuhkan”.

Kusimak curhatan ibu ini dengan seksama, sambil menatap bola matanya yang tak lagi jernih. Sekuat atau sebugar apapun beliau, pasti setiap sendi dan organ tubuh telah kurang fungsinya termakan usia. Tapi semangatlah yang membuatnya kelihatan kuat. Seharusnya beliau sekarang telah beristirahat. Setidaknya rehat dari memikirkan kebutuhan anak.  Tapi nyatanya? Lelah belum berakhir.

“ Jadi sekarang ibu mentransfer uang untuk anak ibu yang mana?. Yang suaminya pengangguran, atau anak lelaki ibu yang sakit itu?”, kali ini aku yang penasaran.

“Bukan, kalau mereka bulan lalu sudah ibu kirim sedikit uang. Kali ini ibu  mau memasukkan uang ke rekening anak ibu yang bungsu. Sebetulnya dia sudah bekerja dan tidak meminta. Tapi ibu tahu, berapalah gaji sebagai pelayan toko. Dia anak bujang. Ibu kasihan. Dia tak mau sebetulnya ibu kasih uang, tapi ibu merasa tak adil, kakaknya yang telah berkeluarga saja ibu bantu. Tapi dia tidak pernah. Ibu takut nanti dikemudian hari dia mengumpat pada ibu”, sambungnya.

Allahu akbar", desisku membatin. Sebetulnya hatimu terbuat dari apa, bu?. Susah payah engkau membesarkan mereka sampai akhirnya semua beranjak dewasa, bahkan telah berkeluarga. Dan sekarang, semua keluhan mereka engkau tampung dan fikirkan?. Bukankan sekarang anak gadismu sudah bersuami dan punya tanggung jawab penuh padanya? Dan bukankah anak lelakimu sudah tumbuh kekar dan punya bekal kaki dan tangan untuk mengais rezeki yang tersimpan dibumi atau menggantung dilangit?, lalu kenapa masih bersandar pada tubuh renta yang setiap hari harus menjual sayur dan kelapa?

Mungkin nasib itu berbeda-beda. Tetapi sebagai anak, jika telah dewasa apalagi telah berkeluarga, usahakanlah untuk tidak menceritakan kesusahan pada orang tua. Jika tiada bisa memberi tak apa-apa. Tetapi ceritakanlah hal-hal bahagia saja. Karena sudah menjadi fitrah orang tua memikirkan anak sepanjang hayatnya.

Kugenggam tangan si ibu yang mulai keriput, kukatakan “ sabar ya, bu..Allah tahu betapa dalamnya kasih sayang ibu pada mereka. Jaga kesehatan ibu”.

“Makasih, Nak. Anak ibu ini Bidan ya?”, tanyanya sambil mengamati seragam putih yang kukenakan.

“Tidak, bu..Saya Apoteker. Bagian Obat”, kupilih kata yang mengundang anggukan dan senyumnya tanda mengerti.

***
NOMER ANTRIAN 46B, CS 2. Melalui pengeras suara giliranku dipanggil. Setelah pamit pada ibu tadi, aku melangkah gontai menuju meja CS. Menarik nafas dan melepaskannya perlahan.





Senin, 13 Juni 2016

Parenting Skill, Perlukah? (Sentilan Fatih pada Ummi..)


Saat-saat paling indah adalah ketika bisa mengikuti setiap step tumbuh kembang anak. Mulai ketika ia belajar tersenyum, telungkup, merangkak, sampai ketika sepatah kata terucap dari bibir mungilnya. 
" miiiii..."
" biiiiii..."
Subhanallah, itu adalah sebuah kebahagian luar biasa yang dirasakan ibu dan ayah ketika pertama kali mendengarkannya. Bersyukurlah atas segala anugrah.

Seiring berjalannya waktu, anak terus bertumbuh dan berkembang. Sebagai orang tua tentu kita juga harus bersiap-siap menambah ilmu untuk mengiringinya. Kenapa? Karena mereka hidup di zaman yang sungguh berbeda dengan orang tuanya. 

Dulu, sampai tahun 90-an, seorang anak yang duduk manis diatas bantal akan spontan beranjak ketika ibunya menegur, "jangan duduk diatas bantal, nak. Nanti kamu bisulan", Ga akan pernah terdengar pertanyaan: " kok bisa bisulan, mi?. Gimana caranya, kan bantal ini bersih". Pertanyaan kritis itu jarang sekali muncul, dan ibu-ibu juga ga perlu kalang kabut nyiapin jawaban yang bisa dicerna sang anak. 

Atau saat ibu bilang "Duuuuuh, kamu jangan tidur telungkup. Mau, ibu mati?"
Anak tidur telungkup apa hubungannya dengan kematian ibu?, ga nyambung amat. Tapi begitulah dulu cara seorang ibu menakut-nakuti anaknya. Agar dada tidak sakit atau apalah, tetapi bisa dipastikan kalau anak akan segera merubah posisi seketika tanpa banyak bertanya kenapa begini dan begitu.

Itu dulu, ga cocok lagi diterapkan dalam mendidik anak-anak sekarang. Zaman telah berubah. 

Suatu hari kami sangat terkejut ketika Fatih (3,5 tahun) tiba-tiba bilang :
" Fatih ga sayang sama Allah. Allah itu mayah-mayah (marah versi cadel Fatih) aja kerjanya". Wadduh? kami tiba-tiba terpana. 

Rupanya setelah difikir-fikir, ternyata Fatih bilang begitu karena salah kami juga. Setiap kali melakukan kesalahan, seperti ketika ia ga mau 'cebok' setelah pipis, pegang alqur'an ga baik-baik, gangguin orang sholat, ngomong keras atau hal-hal tak baik lainnya, sering banget dibilangin begini : "Jangan, nak...nanti Allah marah"
"Habis pipis dibersihin pake air, kalau tidak Allah marah"
"Jangan gangguin si Oma sholat ya, nak..nanti Allah marah"
"Itu Alqur'an, sayang..pegangnya baik-baik. Kalau sobek nanti Allah marah"

Ternyata kalimat Allah marah dan Allah marah lagi lah yang membuat Fatih kecil berfikir kalau Allah itu suka marah-marah. Nah..munculah kalimat dari mulut mungil Fatih seperti tadi, yang pastinya membuat orangtua harus menyusun kata, membersihkan fikiran anak agar tidak menganggap Allah pemarah lagi. 

Jadi, anak-anak sekarang beda bukan?
 
Setiap hari ada saja pertanyaan kritis dan celotehan ajaib dari dari balita abad 20-an. Bagaimana mungkin orangtua bisa mendidik dengan baik jika tidak dibarengi dengan ilmu dan kesabaran, plus mengaplikasikannya. Ga lucu juga kan, jika puluhan buku dan seminar  Parenting Skill  dipelajari, tapi saat kepepet suka khilaf, lupa teori. 

Jadi orangtua berat memang. Apalagi jika anak hampir seusia. Ditambah lagi jika ibu  ada aktivitas diluar rumah yang menguras energi.  Memainkan tiga peran sekaligus , sebagai ibu, sebagai istri dan wanita bekerja bukanlah perkara mudah. Sepuluh jempol buat yang bisa melakoni peran-peran tersebut dengan baik. 

Tetapi, bukankah imbalan menjadi orangtua yang mampu mendidik anaknya dengan baik adalah surga? bahkan juga ada bonus berupa pahala yang tiada terputus jika berhasil menjadikan cahaya mata kita sholeh dan sholehah. Doanya menembus langit. Subhanallah..
Maha Suci Allah dengan segala kebesarannya. 

Mari perbanyak rasa syukur dengan cara menjaga amanah terindah Allah sebaik-baiknya. Mendidik dengan ilmu. mendidik dengan sabar. Mendidik dengan ketulusan hati. Insyaallah..surga menanti. 




*Ramadhan 09, 1437H*






Sabtu, 11 Juni 2016

Hidup Boleh Berakhir, Tetapi Pahala Harus Tetap Mengalir


Suatu hari ba'da subuh , pengurus mesjid mengabarkan berita duka. Seorang warga komplek perumahan kami meninggal dunia. Beberapa hari setelah itu, setiap kali kuedarkan pandangan, diperjalanan jelang ke kantor, setidaknya ada satu atau dua  rumah yang di depannya ada bendera hitam. Pulang kampung, kabar meninggalnya warga tanah kelahiran silih berganti. Bertubi-tubi. Ada yang mendadak meninggal dunia tanpa menanggung sakit sebelumnya, kecelakaan, bahkan ada juga yang cuma diawali dengan pusing sedikit saja, setelah itu berbaring dan didapati telah tanpa nyawa. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Takdir. Allah yang Maha kuasa atas hidup mati siapa saja. 

Jika kematian demi kematian itu tidak memberi pelajaran dan makna untuk sebuah muhasabah diri, rasanya merugi. Karna mati itu misteri. Tidak berkriteria, tidak memandang usia, apalagi jabatan dan tahta. Semua niscaya merasakannya, hanya tentang waktu dan giliran saja. 

Bicara tentang kematian sepertinya tak bisa dilepaskan dari kehidupan. Karena, sebelum mendapat 'tiket' yang bakal diterima satu-satu tanpa pengecualian tersebut, tentu mesti ada bekal yang mesti dibawa. Ibarat akan menempuh perjalanan panjang, tanpa persiapan dan bekal yang cukup, pastilah yang akan ditemui itu penderitaan. Dan bekal kita bukan lah nasi kotak, bukan biskuit atau makanan ringan, tapi amalan. 

Untuk kehidupan dunia, rata-rata kita cerdas berinvestasi. Reksadana, nabung emas batangan, tanam saham sana-sini, membeli properti dan aset sebanyak mungkin. Tujuannya tentulah sebagai proteksi diri, jikalau pailit, ada aset yang nilainya terus mengalir. Kita tenang dan lapang tanpa khawatir. 

Tapi bagaimana dengan bekal untuk akhirat, seberapa banyakkah kita 'berinvestasi'?. Tidakkah kita ingin selalu ada pahala yang selalu mengalir disaat hidup telah berakhir?

Dalam sebuah hadist shohih disebutkan bahwa ;
Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara yaitu : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau do'a anak yang sholeh (HR. Muslim)

Masyaallah, betapa sayangnya Allah pada kita. Dia yang Maha pengasih dan Maha Penyayang masih saja  memberi jalan bagi kita disaat usia berakhir dan semuanya terputus. Kadang sempat terfikir, bagaimana jika tiga perkara itu tidak ada, semuanya berakhir dan ditutup. Dengan apalah dosa yang menggunung ini 'tertalangi'?

Kembali diri memaknai hidup. Putaran waktu yang cepat dan dunia yang penuh godaan. Ketika diri hanya disibukkan oleh urusan-urusan dunia yang melenakan. Pagi, siang sore, malam dan pagi lagi. Tak terasa usia bertambah dari tahun ke tahun, pastinya kesempatan berkurang. 

Kita memiliki banyak orang yang kita sayang, tapi ketika nyawa tak lagi dibadan, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Mereka menangis sehari dua hari saja, setelah itu lupa. Padahal bisa saja semasa hidup kita mati-matian memperjuangkan mereka, bahkan tanpa memikirkan ini halal atau haram. Sholat mudah saja diabaikan demi pekerjaan yang belum selesai, ibadah seadanya ketika bos meminta lembur. Ketika mati, tinggallah kita menanggung semuanya sendiri. Di tanyai, di mintai pertanggungjawaban.

Setelah semua terputus, sedekah jariyah seperti apakah yang bisa kita banggakan kelak didepan Allah? Jika spanduk bantuan dana untuk pembangunan mesjid yang membentang dimana-mana hanya dilewatkan begitu saja. Ketika ada yang menyodorkan kesempatan untuk meminta sedikit keping-keping yang ada pada pundi-pundi ditanyai dan dicurigai? Ketika perut kekenyangan dengan berbagai rupa-rupa makanan tapi enggan berbagi dengan si fakir, si miskin dan si yatim? Astaghfirullah...meruginya kami ya, Allah.

Ilmu bermanfaat apa yang kelak kita laporkan pada Allah? Sementara kita enggan menyampaikan kebenaran dan lebih memilih nyaman dan berkata 'biarkan sajalah'. Pekerjaan hanya dijalani seadanya saja dan miskin konstribusi? Bahkan ketika ada yang membuka jalan dan mewadahi, mendukung saja kita enggan. Allaah...ampunilah kami. 

Doa anak sholeh dan sholehah, seberapa besar upaya kita menjadikan cahaya mata, buah kasih menjadi putra-putri nan sholeh sholehah? Mereka tidak pacaran kita resah, takut tak bertemu jodoh. Mereka berhijab lebar kita wanti-wanti," kamu hati-hati..banyak aliran sesat, jilbabnya biasa-biasa sajalah". Mereka tak tabarruj kita gaduh, "penampilan seperti ini perusahaan mana yang tertarik menerima kerja?". Dunia..oh dunia. Biar lah menantu tak sholat asalkan kaya, biarlah anak berpakaian minim asal uang darinya tetap mengalir. Astaghfirullah...ampuni kami ya Allah.

Pemandangan bendera hitam dan liang lahat itu kembali mengingatkan, betapa kehidupan dunia hanyalah senda gurau. Jika kita mau hijrah menjadi manusia yang lebih 'pintar', marilah mulai saat ini kita perbanyak 'investasi' untuk kehidupan akhirat. Bentuknya seperti apa tentu kita sudah banyak tahu. Hingga ketika hidup telah berakhir, pahala terus mengalir. Insyaallah..




*Kontemplasi, 07 Ramadhan 1437H




Selasa, 31 Mei 2016

Waspada, Penipu yang memanfaatkan perasaan ibu!!


Siang itu kami dikejutkan oleh tangisan tiba-tiba salah seorang bidan di Puskesmas. Dengan terbata-bata seorang ibu yang ku kenal sangat perhatian pada anak-anaknya ini bilang sambil menangis, " Dito kecelakaan, sekarang ga sadar. Dibawa ke Rumah sakit M. Djamil Padang". Sedu sedannya membuat semua resah, dan terbawa perasaan. Bagaimana tidak, Ni Nai (demikian biasanya bidan ini di panggil) bekerja di kota yang cukup jauh dari rumahnya. Berdomisili di Padang dengan jarak sekitar 45KM dari puskesmas tempat kami sama-sama bekerja. 

Suasana menjadi riuh karna sang ibu yang tidak tahan mendengar kabar buruk ini terus menangis. Sembari menunggu ambulans puskesmas yang bersedia mengantar ni Nai ke Padang, kami terus berupaya menenangkan. Tapi mana mungkin perasaan seorang ibu bisa tenang jika mendapat kabar seperti itu. Apalagi belum ada keluarga yang menyusul Dito ke rumah sakit, sementara sang ayah juga diluar kota. Wajar saja jika air putih yang ku berikan ditepis, "Uni ndak bisa minum doh, Len", tersedu dia berkata. 

Tiba-tiba ku teringat pada teman yang bekerja di RS. M Djamil, dan beberapa teman yang lain juga berinisiatif menelfon pihak IGD RS. Tujuan kami semula adalah, untuk memastikan kondisi Dito, siswa SLTP yang dikabarkan kecelakaan.

Setelah berhasil dihubungi, kami mendapat kabar bahwa saat itu tidak ada pasien IGD yang bernama Dito. Kemudian dapat lagi informasi kalau tidak ada siswa kecelakaan yang masuk IGD. kami terkesiap. Ini pasti ada yang tidak beres. Kami tanya sama ni Nai, " apakah orang yang menelfon suami Uni ada minta uang?", ternyata memang begitu adanya. Kepada sang ayah, orang yang menelfon mengatakan minta ditransferkan sejumlah uang untuk membeli alat guna penanganan korban di rimah sakit. Darurat, begitu suasana yang digambarkan

Demi mendengar sepenggal penjelasan tadi, kami yakin. Ini adalah penipuan. Akhirnya Dito bisa dihubungi. Dia baik-baik saja. Uang 15 juta selamat.

Kejadian yang sama juga pernah dialami oleh Uni Mardalena di Puskesmas Marunggi. Dzaki anaknya yang sekolah di tempat suami saya mengajar, dikabarkan orang yang tidak dikenal telah mendapat kecelakaan dan sedang kritis di rumah sakit. Persis seperti yang dibilang pada suami Ni Nai diatas, si Penipu juga minta dikirimi uang 15 juta. Dia detail sekali menyebutkan nama alat yang dibutuhkan untuk menangani korban kecelakaan tersebut. Suasana juga dibuat panik. Bahkan saat itu ni Len sudah sampai di bank untuk mentranferkan uang sejumlah 15 juta yang diminta. Syukurlah, Allah menyelamatkan. Antrian teller rame, sehingga ni Len mulai bisa berfikir jernih. Meminta ku menelfon suami guna memastikan kondisi Dzaki. 

" Uda, Dzaki kecelakaan, sekarang kritis. Bisa uda pastikan keadaannya?", tersengal kutanya via telfon. Dengan tenang uda menjawab " barusan Dzaki lewat di depan kantor Uda sama teman-temannya. Dia baik-baik saja, Yang", jawab Uda. Secepat kilat ku tutup telfon dan kembali menelfon ni Len. 

"Uangnya sudah Uni transfer?,
"Belum, Len..masih antri"
"Alhamdulillah, ini penipuan,ni. Dzaki baik-baik saja".


Allahuakbar.  Selamatlah. Kesannya ini penipuan sederhana, tak mudah mengecoh orang. Tetapi faktanya, kabar buruk seperti ini dapat mengobrak abrik perasaan orang tua terutama ibu. Sehingga sulit sekali berfikir dengan tenang. 


Berhati-hati sajalah jika mendapat kabar seperti ini. 
Semoga bermanfaat

Senin, 30 Mei 2016

Samudera Di Hati, Surga Di Telapak Kaki


Pagi yang begitu indah. Awan berarak cantik, seperti kapas membentuk lukisan berbagai rupa. Ada ibu-ibu dan bapak-bapak berpakaian dinas putih, krem dan hijau berjalan cepat menuju bis. Ada juga anak sekolah berseragam putih merah, putih biru dan putih abu-abu lalu lalang berburu waktu. Dipersimpangan terlihat tukang ojek yang setia mangkal dengan mata awas mencari penumpang. Pedagang sarapan berjejeran, sesekali tersenyum manis pada siapapun yang melirik, penuh semangat , berharap ada yang membeli. Alhamdulillah, semua bertebaran di bumi Allah.

Kupilih bis berkecepatan terukur. Biasanya, 1 jam 5 menit tembus, sampai di kota tempat ku mengabdi. Aih, pegawai negri. Berangkat pagi setiap hari.

Duduk dekat jendela paling ku suka. Merenung sambil menatap pemandangan disepanjang jalan bagiku adalah sebuah keasyikan. Pernah suatu kali bis berhenti agak lama. Dari balik kaca jendela, ku lihat orang gila yang sedang khusuk menikmati sisa-sisa makanan dari tong sampah. Terlintas difikiranku, alangkah besarnya nikmat akal fikiran yang Allah berikan. Hingga tak layak jika kita minim rasa syukur. Saking lamanya ku menatap, saat bis akan berangkat, orang gila itu melihatku. Sedikit bergidik, ketika matanya berkedip sebelah padaku. Ah, akal saja yang salah rupanya. yang lain tidak. Astaghfirullah, syukurlah bis ini segera melaju. Huuuu..

Lebih kurang lima kilometer perjalanan, bis berhenti. Seorang ibu paruh baya naik dengan anak perempuan, kuperkirakan berusia delapan tahun. Dia duduk persis disampingku sambil memeluk anaknya. Baru saja bis melaju, gadis kecil ini berteriak dengan suara 'aneh'. Apapun bunyi yang keluar dari mulutnya, kedengaran sama. Kemudian baru kusadari kalau anak ibu ini seorang tuna rungu-wicara. Selain tuna rungu ia juga mengalami voice disorder.

Yang membuat aku kagum adalah, ibu ini lembut sekali pada anaknya. Dia berbisik meskipun anaknya tak bisa mendengar, "sayang, tenang ya...tidak apa-apa, ini ibu, nak". Sembari mengelus tulus kepala anaknya. Bahasa kalbu anak dengan sang ibu. Seketika gadis kecil yang didandani dengan gaun pink lembut dan pita kecil di rambut ini terdiam. Meskipun jika mobil tiba-tiba berhenti atau ngerem, dia kembali berteriak dengan suara seperti semula. 

Gadis kecil berponi, walaupun 'beda', anak ini bersih dan wangi. Jelas kalau ibunya telaten merawat. Kulitnya bersih, dipergelangan tangan ada asesoris gelang ala anak-anak. Jika sedang diam, ga ada yang tahu kalau dia 'istimewa". Ku lempar senyum pada wanita hebat disampingku itu, dia balas dengan lengkungan cantik sudut bibirnya. Tulus itu semakin memancar. Sekilas ku lirik wajahnya, tampak, betapa kesabaran tergambar dari air mukanya. Dititipi Allah anak seperti ini, tak menghadirkan rasa risih sedikitpun. Bahkan tiap sebentar dia mencium pipi anaknya, sambil sesekali menunjuk keluar jendela, "itu pohon, itu sawah, nak". Sesekali anaknya tersenyum, saat itulah dia cium kembali pipi anaknya dengan penuh kasih. 

Kembali ku lempar pandangan ke balik jendela. Sembari menatap langit biru dan burung yang sedang mengepakkan sayapnya, ku bicara pada hati : " sungguh, wanita disebelahku luarbiasa. Dikaruniai samudera di hati dan surga di telapak kaki. Berkahi hidupnya, Ya Allah..". Pagi dengan sebuah pembelajaran.



*untuk yang membuang, menyiksa dan bahkan membunuh anak sendiri, apa kabar?
  Padang, Penghujung Mei '16



Senin, 09 Mei 2016

Membiasakan Diri Membaca Berita Dibalik Berita


Sebagai makluk sosial, manusia tidak bisa hanya mengandalkan pengetahuan sebatas dirinya saja. Sangat diperlukan informasi-informasi lain untuk menambah wawasan dan khasanah pemikiran. Semakin banyak seseorang menyerap informasi, baik lewat media cetak, elektonik maupun informasi dan audio visual, semakin luaslah cakrawala pemahamannya. Tentu hal ini akan sangat mendukung saat berkomunikasi dengan orang lain.

Namun beberapa tahun belakangan, ketika kebebasan berfikir dan berpendapat begitu dimanjakan, kita membutuhkan "alat" sebelum memutuskan untuk mereguk nikmatnya sebuah informasi atau berita. Kenapa? Karena saat ini, tidak lagi semua berita bisa kita percaya begitu saja. Banyak sekali tulisan yang kadung dikonsumsi publik, tetapi isinya adalah fakta yang diplintir sedemikian rupa sehingga kehilangan makna yang sesungguhnya.

Pernahkah anda membaca sebuah headline news yang begitu menggelitik, lalu ketika dilihat isinya, sangat jauh panggang daripada api? Semisal, "Politikus XYZ; dari korupsi sampai nikah beda agama". Ketika kita buka link nya, memang berita korupsi yang ditulis adalah tentang politikus bernama XYZ, tetapi soal nikah beda agamanya adalah tokoh kedua yang juga diberitakan dengan judul yang sama. Coba bayangkan jika pembaca hanya membaca headline nya saja, tentulah pelaku yang dikira adalah si XYZ ini . 

Selain itu, ada juga berita yang dibuat berulang-ulang, beruntun sehingga dapat menggiring opini masyarakat. Seperti pemberitaan tentang sebuah kasus  pemerkosaan. Kita patut bersimpati pada korban atas kejadian yang dilakukan oleh orang-orang tak bermoral ini. Hanya saja, adakalanya sekelompok orang memanfaatkan momentum ini untuk memunculkan opini bahwa tidak ada hubungan antara berpakaian sopan dengan kasus pemerkosaan. Mungkin untuk kasus yang sedang dibahas saat ini tidak ada hubungannya, tetapi tidak bisa juga digeneralisir bahwa menutup aurat itu tak ada fungsinya untuk menjauhkan diri dari kejahatan. Idealnya, sebuah pembahasan harus komprehensif, sehingga ditemukan benang merah dan hubungan sebab akibat yang betul-betul jelas.

Banyak sekali contoh pemberitaan yang membutuhkan nalar dan analisa matang sebelum "ditelan". Nah,  alat yang dimaksud diatas adalah "filter/saringan". Kita butuh fikiran jernih dan tajam  sebelum menerima sebuah informasi. Jika tidak, maka kita akan menjadi "pembebek" yang mau saja digiring kemana dunia menghendakinya. 

Kemampuan membaca berita dibalik berita tidak hadir serta merta, tetapi juga perlu latihan. Kita perlu membiasakan diri membandingkan informasi dari berbagai sumber. Jadi jangan pernah sekali membaca lalu membuat opini. Tetapi bacalah dari berbagai referensi. Diskusikan dan baru simpulkan. Dengan demikian, kita tidak akan mudah terombang ambing dizaman yang memang sedang pada fase "mengombang ambing".

Sekian

Sabtu, 30 April 2016

Pertemanan di medsos kena blokir? Ini sebabnya!


"Tanyain dunk sama dia, kenapa aku di block dari pertemanan di medsos?"

"Lho? Kenapa statusnya ga bisa terbaca di new feed ya, apa aku di block?"

"Kalo, orang lain komen distatusnya, aku bisa lihat, tapi ko giliran namanya ga kebaca?"

***

Kira-kira demikianlah beberapa pertanyaan yang muncul ketika seseorang heran kenapa ada yang memblokirnya dari pertemanan, karena walaupun "bercakap-cakap" di dunia maya bukanlah segala-galanya, tetapi tetap saja ada rasa ga enak jika tiba-tiba ada yang ngblock. Apalagi yang memblokir adalah orang yang mungkin saja selama ini kenal dengan kita. 

Tentang blokir memblokir, sebetulnya itu sah-sah saja, itu hak yang punya akun. Diblokir dari pertemanan tidak sama halnya dengan memutuskan komunikasi atau silaturahim, karena mungkin saja anda lebih cocok dijadikan teman didunia nyata saja, tetapi tidak cocok jika berteman didunia maya. Bisa jadi bukan? Nah, sebaiknya introspeksi diri saja jika sewaktu-waktu ada yang memblokir anda, tanpa harus berfikir begini dan begitu.

Ada 4 hal yang mungkin bisa jadi penyebab pertemanan di media sosial diblokir :

1. Kebiasaan membuat status tidak sopan, misalnya suka menulis sumpah serapah dan kata-kata kotor. 

Berselancar di media sosial adakala bagi seseorang tujuannya untuk mencari hiburan, mendapatkan informasi, atau sekedar bertegur sapa dengan orang-orang yang jauh dan jarang berjumpa. Jadi jika yang di temukan adalah status dengan tulisan "tak beradab", tentu ini bikin jengah dan muak orang yang membacanya. Wajar-wajar saja jika ada yang suka menumpahkan rasa di akunnya, tetapi jika sudah menjadi kebiasaan dan setiap hari isinya keluhan dengan kata-kata "sampah", tentu bikin eneg orang lain. 

2. Sotoy

Sama halnya dengan dunia nyata, berkomunikasi di dunia maya pun ada adab-adabnya. Kira-kira dalam kehidupan sehari-hari jika selalu ketemu dengan orang yang merasa paling pintar, sok tahu (sotoy) dan suka berdebat, tentu bikin orang bosan dan bahkan menjauh. Demikian juga dengan dunia maya. Jika setiap kali kita hadir di status orang cuma untuk memunculkan perdebatan, selalu reaktif dan memunculkan "angin ribut", jangan salahkan orang jika memblokir pertemanan dengan anda.

3. Suka komen pedas

Berkomentar pedas di status orang lain sih sah-sah saja, ada juga manfaatnya buat koreksi bagi yang punya akun. Tetapi, jika hari ini pedas, besok pedas, lusa pedas lagi,siapa yang betah? Orang lain tidak selalu menginginkan anda setuju dengan pendapatnya, tetapi anda juga tidak bisa setiap saat bertindak sebagai eksekutor yang kejam. Jika anda punya kebiasaan seperti ini, lebih baik introspeksi agar menjadi pribadi yang lebih santun dan cooling down.

4. Punya hobi mengunggah video atau gambar mesum

Tentang ini, mungkin tak perlu dijelasin lagi. Hampir semua orang tidak suka berteman dengan mesum minded seperti anda.


Mungkin itu saja diantara penyebabnya, jika ada tambahan bisa ditambahkan sendiri di kolom komentar. Media sosial salah satu tujuannya adalah untuk memperluas jaringan pertemanan, jadi kalau bisa, manfaatkanlah untuk mencari teman, bukan menambah lawan. Jika ada yang tidak berkenan, bisa saja di inbox secara pribadi, bukan dengan cara memperdebatkan untuk memperlihatkan betapa hebatnya kita. Jadilah pribadi menarik dan menyenangkan. 

Sekian.
Selamat berakhir pekan.






Senin, 25 April 2016

Rencana Bezuk, Akhirnya Takziah




Hadist tentang 6 Hak Muslim Atas Muslim
َعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Hurairah Radhiyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Hak seorang muslim terhadap sesama muslim ada enam, yaitu bila engkau berjumpa dengannya ucapkanlah salam; bila ia memanggilmu penuhilah; bila dia meminta nasehat kepadamu nasehatilah; bila dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah bacalah yarhamukallah (artinya = semoga Allah memberikan rahmat kepadamu); bila dia sakit jenguklah; dan bila dia meninggal dunia hantarkanlah (jenazahnya)". (Riwayat Muslim)

Dari Tsauban Maula, Rasulullah SAW bersabda :

" Barangsiapa menjenguk orang sakit, maka dia benar-benar duduk di kebun surga, sehingga jika dia berdiri hendak pulang, maka ditugaskan 70 ribu malaikat menyertai dia, mereka (para malaikat) mendoakan keselamatan untuknya hingga malam tiba" (HR. Muslim)

Subhanallah.


***


Betapa mulianya Islam, mengatur hidup manusia sedemikian rupa. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi ada tata caranya, semua lengkap dijelaskan dalam Alqur'an dan Hadist. Adalah sebuah penyesalan besar kelak yang kita rasakan jika hidup tidak mengikuti aturan-NYA. 


Bicara tentang membezuk saudara sesama muslim yang sakit, mungkin diantara kita sudah  sering melakukannya. Alhamdulillah jika itu sudah menjadi kebiasaan. Disamping untuk menghibur dan memberi semangat bagi si sakit, membezuk juga akan menjadi jalan untuk kembali mengingat segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Bagaimana tidak, bukankan nikmat terbesar setelah iman adalah kesehatan?

Sebagian besar ibadah yang kita lakukan membutuhkan kekuatan fisik. Artinya, dengan fisik yang sehat, maka kenikmatan ibadah tersebut akan lebih terasa. Katakanlah Shalat, Puasa dan Naik Haji. Mungkin dalam ibadah-ibadah tersebut ada keringanan yang diberikan sesuai dengan kondisi kesehatan, karna islam tidak pernah memberatkan umatnya. Hanya saja, akan lebih nyaman jika kita melaksanakannya dalam kondisi fisik yang bugar.

Kembali kepada bahasan perihal membezuk tadi. Satu hal yang juga harus kita perhatikan jika berniat membezuk adalah "menyegerakan". Syaitan pasti akan berusaha menghalang-halangi setiap niat baik. Ada saja alasan yang membuat kita sering menunda-nunda. Besok saja, hari ini sibuk. Lusa saja, cuaca kurang bagus. Nanti saja, kondisi tubuh lagi kurang fit. Berjuta hambatan bisa saja menjadi alasan. Akan tetapi, bisakah kita bermain-main dengan maut?

Mati memang tak harus menunggu sakit. Untuk menemui ajal juga tidak harus sakit parah. Akan tetapi, bagaimana kalau saudara yang rencananya mau kita bezuk, keburu meninggal sebelum kita temui. Sehingga niat bezuk berubah menjadi takziah. Tidakkah kita menyesal?

Jadi marilah kita biasakan untuk menyegerakan niat baik, karena sedetik kedepan, tiada yang tahu apa yang terjadi. Wallahua'lam



Sabtu, 23 April 2016

Lelaki Keren itu suka membaca! (Sebuah Catatan Di Hari Buku Sedunia)


Bismillah..
Beberapa hari tak menulis, karena sibuk yang masih terbilang tak seberapa dibanding Bang Syaiha, membuat rinduku mengharu biru. Entahlah, kangen saja rasanya merangkai aksara di "rumah cantik" yang sudah didekorasi sedemikan rupa ini.

Baiklah, demi menunggu suami yang sedari tadi sibuk dengan pertandingan futsalnya, kunikmati secangkir capuccino dan dua keping biskuit full coklat. Setelah itu, akan ku ajak kamu bernostalgia. Halaaah, penting amatkah? Anggap saja penting..hehehe

***

"Mau ikut mama ke pasar?" tanya mama padaku,  Helen kecil berusia 9 tahun. 
" Ga, ma..beliin saja nanti oleh-oleh. Mau buku cerita", jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari majalah Bobo yang sedang terbuka persis di halaman terakhir, kisah si Bona berbelalai panjang.
"Baiklah, kisah nabi Sulaiman sudah ada?" timpal mama sembari menyiapkan keranjang plastik buat dibawa ke pasar. Biasalah, ibu rumah tangga itu kan manajemennya keren, daripada beli kantong kresek untuk meletakkan belanjaan, mending keranjang khusus ditentengin dari rumah. 
"Nabi Nuh saja dulu, Ma. Cerita Nabi Sulaiman sudah pernah dibaca", jawabku.

Demikianlah setiap mama mau ke pasar, selalu pulang membawa buku cerita. Untuk majalah sering kuperoleh dari sepupu yang punya toko buku. Ananda dan Bobo, itu majalah kesukaanku. Pernah suatu hari saat pulang kampung sepupuku bilang sama papanya, "Pa, Helen itu suka sekali membaca, kata pengantar buku saja dibacanya". Tentu saja kalimat itu mengundang tawa seluruh keluarga, secara saat itu aku masih kelas empat SD. Masa dimana minat baca belum banyak dimiliki anak-anak. Sedangkan aku? majalah Intisari, Tempo yang biasa dibaca papa saja kubaca. Meskipun banyak kata yang tak kumengerti. Asal baca saja. Paling yang repot nanti adalah papa yang harus siap dengan pertanyaanku, "Pa, konsisten itu apa? komunikasi itu apa?". Jadilah beliau pusing mencari penjelasan yang tepat dan bisa kucerna.

Masa remaja, masanya huru hara. Rasanya tak terjadi padaku. Pulang sekolah, les. Sampai di rumah, istirahat, makan, belajar. Tak sedikitpun orangtua membebankan pekerjaan rumah padaku. Nyuci piring apalagi memasak, hampir tak pernah kulakukan. Kenapa ya? aku lupa. Rasanya setiap  sampai di rumah semuanya sudah beres. Mamaku seorang ibu rumah tangga dengan lima orang anak. Tapi jam 4 sore sudah bisa berdandan cantik menanti papa pulang kerja, anak-anak semua juga sudah mandi dan rapi. Telatennya Mamaku. Terima kasih, bunda..mmmmuuuaaach. Efeknya apa? awal menikah aku hanya bisa bikin telor mata sapi doank. Malangnya uda ku punya istri tak bisa masak, tapi sekarang sudah mulai pintar lho...bisa bikin sampadeh...hehehe. 

Kembali kepada hobi membaca. Bagiku, membaca itu penting. Buku itu bisa membawa imajinasiku berkeliling dunia. Contoh saja, aku serasa berada di Beijing ketika membaca novelnya Asma Nadia. Seakan jalan-jalan ke Kairo ketika dihanyutkan oleh tulisan Kang Abik. Semangatku memuncak ketika membaca buku-buku pergerakan. Hatiku yang gundah seakan dibasahi embun saat membaca taujih-taujih di Majalah Tarbawi. 

Aku melankolis. Klo suka sesuatu, pasti kubuntuti. Aku suka tulisannya Ustadz Anis Matta. Setiap buku beliau yang kutemui besar inginku untuk membeli. Suka tulisan Ustadz Cahyadi Takariawan, Salim, A Fillah, Fauzil Adzhim, Marpaung Parlindungan, Andrea Hirata. Selalu ku upayakan untuk menyediakan budget untuk mendapatkan buku-buku mereka. Meskipun, untuk itu aku harus menekan keinginan yang lain, misalnya gonta ganti tas, ngikutin tren sepatu. Aku ga suka ah..mending ngikutin launching buku penulis favorit.

Lelaki berkacamata lagi baca buku. Wowww, keren banget dimataku. Itu dulu, semasa kuliah. Sempat sih kuselipkan dalam doa " Allah, selain sholeh..aku juga pengen suami yang hobinya sama denganku. Suka baca buku dan dia juga cenderung pada buku-buku yang kuminati". Doa itu kutulis didalam diary..hihi

Kenapa lelaki suka membaca dimataku begitu keren?
1. Papaku cuma tamat SMA, tapi wawasannya luas. Diskusi apapun nyambung. Itu kenapa?, karna papa suka membaca
2. Lelaki suka membaca, pasti cerdas. Apalagi buku yang dibaca buku-buku bermutu. Jadi enak diajak diskusi
3. Lelaki suka membaca, akan lebih sabar. Membaca itu terbukti melatih kesabaran.
4. Lelaki suka membaca itu, banyak yang pake kacamata. Aku suka lelaki berkacamata..

Mau protes dengan pendapatku?...hehe, boleh-boleh saja. Tapi, secara tidak sadar kamu saat ini lagi membaca tulisan ini bukan? Jadi kamu masuk kategori keren ala Helen Widaya..hhahaha...


Have a nice weekend...
Selamat Hari Buku Sedunia


230416-bersama lelaki berkaca mata yang suka membaca.



Selasa, 19 April 2016

Jodoh dan Status Facebook


Hai gayes...apa kabar ?
Kali ini saya pengen menyapa jomblowan dan jomblowati yang sedang menanti dan mencari. Wah, nyari apaan sih? sepertinya serius banget. Bener, ini memang bahasan serius, menyangkut masa depan. Wadduuuuuuh. 

Sebagaimana judul di atas, kali ini kita akan bicara tentang jodoh. Meskipun bahasan ini rada-rada sensitif, tetapi tetep saja bikin mata agak sedikit terbuka jika menyimaknya...hehe (based on pengalaman dan pengamatan pribadi). Dulu (ketika belum menikah), sayapun begitu. Saat materi sebuah pengajian tentang munakahat atau topik-topik lain yang dekat dengan dunia perjodohan diberikan, selalu membuat lingkaran kecil yang merenggang menjadi rapat. Fikiran yang tadi melayang kesana kemari, tiba-tiba menjadi kompak dengan mata dan telinga. Mendengar baik-baik rangkaian kata yang disampaikan pemateri, persis seperti pecandu bola yang begitu khusuk menanti detik-detik gol. Analoginya ga pas ya? hehe. Ya sudahlah, yang penting bisa dibayangin kan ya?

Jodoh dan Status Facebook, apa pula ini?

Saya ada cerita!
Alkisah di sebuah kota kecil, sepasang suami istri dikejutkan oleh kedatangan seorang pria tampan dari pulau seberang. Meskipun sebelumnya anak gadis mereka telah menceritakan sekelumit kisahnya diperantauan, tetapi tetap saja ayah dan ibunya takjub. Tidak menyangka, seorang pria mau datang menemuinya seorang diri hanya untuk melamar anak gadisnya. Menempuh perjalanan jauh lagi. 

"Kamu sudah lama kenal sama Nisa?", tanya sang ibu penasaran.

"Kenal langsung belum sih, bu. Baru seminggu ini kami diperkenalkan. Tapi saya sudah lama memperhatikan anak ibu"

"Memperhatikan? Bagaimana caranya? Bukankah kalian tidak tinggal di kota yang sama?". Kali ini si ayah yang ikut menimpali.

"bener, Pak. Awalnya saya tertarik dengan status-status anak bapak di facebook. Dari kalimat yang ditulisnya saya yakin kalo Anisa adalah gadis positif. Ga satupun saya temukan umpatan atau kata-kata buruk. Jika sesekali dia share postingan atau aktifitasnya, selalu bermanfaat buat orang lain. Saya stalking semua tentangnya, mengobrak abrik siapa saja temannya. Bagaimana komentar-komentarnya menanggapi sesuatu. Semakin lama saya menjadi semakin tertarik. Dia pintar, pergaulannya positif" jelas Rafli panjang lebar. Mendengar cerita penuh semangat itu, memancing gelak tawa suami istri tadi. "Ada-ada saja anak muda sekarang", batinnya.

"Anak muda, kenapa semudah itu kamu percaya? itu kan dunia maya, bisa saja Anisa putri kami tidak sebaik yang kamu kira. Bikin status bagus dan positif semua orang juga bisa". Masih sambil tertawa Ayah Anisa menanggapinya.

"Bukan seperti itu, Pak. Sebagai pria yang sudah siap untuk menikah, tentu saya juga tidak semudah itu menjatuhkan pilihan. Sudah pasti saya juga punya kriteria. Karena saya saat ini tidak saja sedang menyeleksi calon istri, tetapi juga sedang memilihkan ibu untuk anak-anak saya yang dilahirkannya nanti", Rafli kembali berargumen. Kali ini Ayah Anisa tak lagi tertawa, tapi mulai serius menanggapi.Posisi duduk sedikit dirubah lelaki enampuluh tahun ini. Beliau mulai simpatik. Sepertinya anak muda ini bukan dalam fase buta karna cinta. Tapi "cukup berisi" fikirnya. 

"Setelah stalking facebooknya Nisa, saya putuskan untuk mendekati teman-temannya. Sedikit menyamar saya tanya pada mereka pribadi Anisa itu bagaimana, pemahaman agamanya seperti apa. Bukankah untuk mengenal seseorang kita bisa berkaca pada teman dekatnya?. Semua teman-temannya bercerita kalau Anisa adalah gadis yang aktif, pintar dan baik. Dari situlah saya merasa yakin bahwa Nisa adalah gadis yang saya cari. Lewat seorang teman kami diperkenalkan. Singkat, tapi hati saya mantap. Akhirnya Nisa menantang kesungguhan saya, meminta untuk menemui bapak dan ibu kesini jika betul-betul serius  ingin menikahinya. Hingga sampailah saya disini, Pak. Dan untuk keluarga saya, semua sudah setuju"

Singkat cerita, selang dua bulan setelah itu Nisa dan Rafli menikah. Sekarang mereka hidup dibaluti sakinah, cinta dan rahmah.

***
Kisah diatas bukanlah hayalan belaka, tapi nyata adanya. Sebuah kisah romantis yang diawali dengan adab. 

Media sosial seperti facebook memang bukanlah apa-apa, tetapi ketika berselancar di dunia ini, juga ada adab-adabnya. Berkata kasar, sumpah serapah, mengumpat akan memperlihatkan siapa pribadi kita. Mungkin ada juga yang bilang " lebih baik apa adanya daripada berpura-pura". Itu bener. Tetapi sikap jorok, kasar tentu bikin orang ilfeel duluan. Mengupload foto-foto selfi dengan memonyongkan bibir dan menyipitkan mata, mungkin ada juga sih yang suka, tetapi cuma untuk dilihat saja, untuk dijadikan istri seorang pria yang baik akan fikir-fikir dulu. Saya pernah menanyakan ini pada teman laki-laki yang notabene berlabel seorang playboy, " Cewek-cewek seperti itu pasti menarik lah ya..bagi pria". Lalu dengan santai dia jawab , "klo untuk dilihat-lihat dan dibawa main sih asik..tapi untuk dijadiin istri ga deh". Helllowww, itu yang bilang cowok.

Aturan ini sebetulnya bukan berlaku buat wanita saja. Pria tentu juga harus bisa bersikap santun dimana saja berada. 

Jadi apa kesimpulannya? JAGA SIKAP! karna tidak ada yang tahu, kalau saat ini ada yang stalking facebook mu wahai jomblowan dan jomblowati. Bisa jadi kisah kalian seperti Nisa dan Rafli. 

Sekian.

Sabtu, 09 April 2016

"Simple..Saya ingin bahagia. Itu Saja".

Hari itu saya nonton siaran talkshow ditelevisi, kali ini bintang tamunya adalah seorang artis yang belakangan sudah agak jarang muncul. Menyimak perbincangan mereka, hati saya tergelitik dengan closing question yang diajukan pada ibu tiga anak ini; "jadi sekarang apa yang menjadi impian anda?". Lalu dengan seulas senyum dan mata bulat yang merawang, perempuan cantik yang sempat terpuruk dengan masa lalunya ini menjawab , " Simple..Saya ingin bahagia. Itu saja". Lalu Sang Host kembali mempertegas , "Itu Saja ?" . Dengan anggukan pasti artis tersebut memberi kepastian atas ungkapannya. 




Hidup bahagia, siapa yang tidak menginginkannya. Surga dunia baru terasa jika ada bahagia didada. Lain tidak. Bahagia selalu menjadi doa yang sering diucapkan untuk dan siapapun yang akan melangkah menuju pernikahan. Membahagiakan selalu menjadi cita-cita siapapun yang ada cinta dihatinya. Intinya, bahagia itu harapan, bahagia itu tujuan.

Adakah yang bisa menjelaskan apa defenisi bahagia ?, bisakah parameter bahagia untuk setiap personal diseragamkan ?...hhhmmm, saya rasa tidak. Defenisi untuk setiap orang itu berbeda-beda. Parameternya juga tak sama. 

Semasa kuliah, pernah seorang senior sejurusan bercerita pada saya. Begini ;

Hari itu, Uda mampir ke sekolah tempat ibu mengajar. Dari jauh Uda melihat Cleaning Service yang setiap hari bertugas membersihkan sekolah. Disaat bapak itu sedang khusuk melaksanakan tugas yang telah puluhan tahun dilakoninya, tergerak hati untuk bercakap-cakap. Setelah dibuka dengan sapaan dan perbincangan ringan, lalu Uda tanya, "apakah bapak tidak bosan menjalani aktifitas ini ?". Lalu sambil menyandarkan sapu lidi pada sebuah pohon disampingnya bapak itu menjawab dengan mata berbinar, " Tidak, tidak pernah bosan. Bapak justru sangat bahagia". "Bahagia ?" teman saya itu bercerita kalau ia mempertegas pertanyaannya. Lalu si Bapak menjawab " Ya, bapak sangat bahagia. Karna Bahagia itu ada ketika kita bisa menikmati apa yang kita jalani. Bapak bahagia karna dengan pekerjaan ini bisa menafkahi keluarga. Meskipun tidak berlebihan, tapi kami tidak merasa kekurangan. Anak-anak bisa bersekolah dan mereka menghormati bapak sebagai imam dalam keluarga"

Sebuah defenisi dan parameter yang sederhana. Tetapi faktanya bapak itu bahagia. Sangat berbeda dengan pengakuan sang artis tadi yang merasa tak pernah bahagia. Padahal secara materi ia tak kekurangan. Bahkan jika bahagia itu bisa dibeli, pastilah ia mampu. Tapi faktanya ga da yang jual bukan ?

Ini baru cerita tentang dua orang yang berbeda. Saya yakin, jika kita tanya satu persatu, tentu akan ditemukan lagi jawaban yang beragam. Jelas bukan? kenapa defenisi dan parameter kebahagiaan itu sangat variatif ?

Lalu bagaimanakah cara agar kita bahagia ?. Tentu untuk pertanyaan ini ada cara yang bisa diseragamkan. Bahagia itu ada dihati. Pemilik dan Penguasa hati adalah Allah SWT. Dekati saja DIA. Beres. Insyaallah Syukur dan Sabar akan mengikuti. Nah, dengan 2 hal besar yang dianugerahi-NYA inilah nanti kita bisa melaksanakan apa yang dibilang Bapak Cleaning Service tadi " Bahagia itu adalah ketika kita bisa menikmati apa yang kita jalani dan miliki saat ini". 

Apakah Anda Bahagia ?, mari kita tanya hati masing-masing..
Jika ada yang kurang, yuk bareng-bareeng mengadu syahdu pada-NYA..

Sekian Saja
Semoga Kita Bahagia Dunia Akhirat
Aamiin..

Jumat, 01 April 2016

Investasi ElSya menuju Surga-NYA


" Ya, Robbi..Anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa" 
(QS. Al-Furqan :74)

Ketika mata saya bertemu dengan ayat ini, tiba-tiba teringat pada sebuah keluarga muda yang saat ini sedang menikmati indahnya hidup berumah tangga. Meskipun kami mengenal baru sebatas di dunia maya, tapi sudah jelas tergambar betapa suami istri ini memiliki konsep dan komitmen tentang rumah tangga yang sedang mereka tapaki. 

Adalah Bang Syaiha dan Mbak Ella Nurhayati. Sekilas ga ada yang istimewa dari pasangan yang selalu ceria ini. Banyak kok pasangan muda berbahagia. Yang punya anak lucu seperti Alif juga ga kalah banyak. Lalu apa yang membuat mereka berbeda ?. Ya, yang menjadi nilai plus adalah keinginan untuk tidak menjadi manusia yang pintar sendiri. Saya pernah tulis tentang ini dengan judul Pinter Berjamaah Ala bang Syaiha

Lho, memang apa sih yang mereka lakukan ?. Saya tidak tahu kapan ide ini bermula, tetapi saya yakin kalau gagasan membentuk komunitas One Day One Post (ODOP) yang sampai saat ini saya bersemangat mengikutinya adalah buah dari gagasan mereka berdua. Sungguh sangat tidak mungkin jika seorang suami bela-belain melakukan sebuah kegiatan pembinaan yang banyak sedikitnya menyita waktu dan perhatian, tanpa dukungan penuh dari seorang istri. Bahkan ketika Alif sakitpun Bang Syaiha masih juga ngintip-ngintip link dan grup warga ODOP sekedar untuk tahu bagaimana perkembangan kami. 

Jika bukan karena ada sebuah "misi besar" dibalik semua ini, haqqul yaqin ga akan hadir energi buat mereka. Lagian apa untungnya menumbuhkan bibit-bibit dari penulis pemula seperti kami?, toh sebagai pasangan penulis yang namanya sudah tercantum didunia literasi, rasanya takkan mengurangi kapabilitas mereka dengan atau tanpa menuntun dan memotivasi kami. 

Tapi itulah beda Bang Syaiha dan Mbak Ella, sebagaimana cita-cita umat beriman yang menginginkan berbondong-bondong ke Syurga, agaknya Bang Syaiha dan Mbak Ella juga menginginkan beramai-ramai menjadi penulis. Karena muaranya tentu kesana juga, Surga !. Bukan tidak mungkin, kelak jika lahir dari kami ini penulis yang menuliskan kebaikan, tentu saja keluarga ElSya juga mendapatkan aliran pahala yang tiada terputus. Dan itu pasti akan semakin memuluskan jalan mereka menuju jannah-NYA. Insyaallah..

Happy Anniversary, Adinda...semoga bahagia dunia akhirat..

Sabtu, 26 Maret 2016

Family Gathering Ala Puskesmas Kurai Taji (Kesan dan Kenangan)


Slamat Sore Pemirsah..eh Pembaca Diary Asysyifa yang Saya Hormati..

Sejak kemaren, di FB berseliweran kan foto-foto Warga HC. Kurai Taji berkaos biru ?, mohon dimaklumi ya, karna kami memang sedang bersenang hati. Konon katanya nih..menurut pengamatan saya juga selama mengabdi disini, ada 2 cara mengumpulkan warga Puskesmas kami. Anda mau tahu ?..ssst, entar ya. Lah,. kok penasaran segitunya ya ?..hmm, ok..ok..saya kasih tau. Pertama dan utama sekali, marilah kita..eh, ko nyerempet ke mukadimah...:)). Maksudnya Yang Pertama : Acara Makan-makan...Yang Kedua Foto-foto. Siapa sih yang ga suka kumpul-kumpul dan makan-makan ?..saya paling suka. 

Jadi, kemaren itu kami sepakat ngadain acara Family Gathering. Rasanya sudah lama banget ga diadakan acara beginian. Kalo piknik sama keluarga masing-masing kita semua kan sudah sering. Itu sudah biasa dan jadi agenda rutin Tapi FG bareng teman-teman kantor beda sensasinya. Ada sensasi strawberry, sensasi anggur..wadduh, ngawur..itukan essence..:))

Nah, setelah rapat singkat tentang bentuk, konsep dan rute acara, akhirnya kami sepakati klo acara ga menempuh jarak jauh, cukup ke kota sebelah saja. Sebenernya sih..bisa saja kami ke Australia, Singapura atau Korea...tapi, ga deh, buat apa buang-buang uang ke manca negara, mending di Indonesia saja..(jiaaaah..gaya..boleh lah. Jangan percaya..jangan percaya..hahaha)


Kami, berangkat sekitar jam 8 Pagi menuju Minang Fantasi dengan bekal semangat 2016 ( eh, bukan itu aja bekalnya..banyaaak..ada Pop Mie, Kue Ulang Tahun, ada juga cemilan dan air hangat buat menyeduh mie..heheheh). Sampailah kita tepat waktu. Sebetulnya kehadiran anak-anaklah yang bikin acara kami ini seru. Ada Arkaan, Fatih, Dhira, Rais, Fathiya, Merry, Chelsea, Alya, Rafif, Ridho, Faras, Bintang, Aziz, Khira, Khifa, Iqwan...hmmm..siapa lagi ya ? Oya, ada sikembar tiga dan Putra jugaaaa....( ada nama anaknya yang belum disebutin?...maaf yaaa..Nte Helen perlu Cerebro*ort nih..hihi.)

Si Kembar 3, Uni-Kakak-Mbak (sampai sekarang Nte Helen ga bisa membedakannya)


Klo suami-suami siapa saja yang ikut ya?,  hmm,,suaminya Nova, suaminya Jeng Vivi Yu, Suami tercintah Ni Novia Hasra, Abang tersayangnya Ijuih Djustinelki (ada yang ketinggalan?)..


Hmmm, disana kami betul-betul happy. Bagaimana tidak ?, selain anak-anak yang ikut Lomba makan kerupuk dan mindahin bola..(hehehe..fatih Ummi dapat hadiah juga ya. ?..awas, siapa yang bilang Fatih curang..itu Kreatif namanya tante Ilas, buat apa mindahin bola satu-satu..mending tiga sekalian ya, nak ?..buang-buang waktu saja itu namanya. Panitia..panitia..anak kecil belum nangkap tuh aturan   wkwkwk..semua juga dapat hadiah kan ya..?..lagian Fatih menang di ronde kedua kan..? saat Fatih sudah bisa mindahin bola satu-satu. Ummi Protes!!!, hahaha), 


My Luphly Fatih, Lomba mindahin bola



 emak-emak juga ikutan lomba Pacu Karung dan Tangkelek (Stttt...Panitia, besok-besok sediain karung ukuran XXL ya..ga muat soalnya...xixixixi). 

satu...dua..tigaaaaa....


Ayo Faraaaas..kamu bisaaaa.....

Dan, puncak serunya adalah acara renang dan mandi-mandi. Hampir semuanya ikutan, setidaknya ikutan basah-basah dikit sebagai partisipasi. Yang paling semangat itu Mami Susan, berpindah dari satu kolam renang ke kolam renang lainnya. Satu-satunya yang tidak dinikmati adalah episode ombak, keburu berkemas karna siap-siap shopping ke Bukittinggi. 

Paling Depan jilbab Hitam adalah Ni Yanti Ufa, semangatnya membara..haha


Ketika Jam Gadang menjadi saksi kelak klo anak kami lah gadang-gadang

Ya, perjalanan selanjutnya adalah ke Bukittinggi. Disana para emak melampiaskan fitrahnya sebagai wanita. Belanja..hehe. Sampai dirumah masing-masing skitar jam 21.30 malam. Acara kami sederhana tetapi sangat berkesan.

Terimakasih Pak Ramadhani selaku Pimpinan yang juga ikut sampai acara selesai. Yang pasti momen ini tak kan terulang lagi, pun ketika nanti kita ngadain acara lagi, kenangannya akan beda. Terimakasih juga buat Mama En yang juga berkenan hadir. Acara makin semarak dengan kehadiran Mama. Nte Aulia, Nte Winda, Nte Iche, Nte Nelis dan Om Rian..makasih ya, udah semangat jepret-jepret kami. Menikmati momen itu penting, biar hidup ga ngebosenin. 


Have a nice weekend teman-teman. Semoga kedepannya kita lebih semangat dan kompak lagi