Tentang Perjalanan

"Hidup adalah tentang sebuah perjalanan, dimana seseorang yang diam menetap tidak akan bisa berkembang sedangkan yang berpindah-pindah selalu mendapatkan kejutan dari sang pencipta yang membuat kita berbeda dari orang lain."

Tentang Kehidupan

"Jangan takut oleh kemarahan orang sehingga kita takut berkata dan bersikap jujur."

Tentang Kesungguhan

"Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kesungguhan."

Tentang Kebijaksanaan

"Orang bijak menemukan kebijaksanaannya melalui kerasnya kehidupan."

Tentang Kesabaran

"Sejak kita menginginkan kebahagiaan dan kesuksesan, sejak itu pula kesabaran menjadi kewajiban kita."

Senin, 21 Maret 2016

Beban Yang Tiada Berkesudahan

Tubuh ringkih itu tertatih mendekati kami. Sebuah baskom berukuran cukup besar dan kelihatan berat sekali diletakkan diatas gulungan kain panjang. Ia junjung dikepala. Kurus sekali tubuh ibu ini. Ku perkirakan usianya tujuh puluh tahunan atau lebih. Rambut yang sudah memutih ditutup dengan selendang seadanya, berbaju lusuh dan memakai kain sarung "jawo" yang benang-benangnya sudah kelihatan rapuh. 

"Beli lah tebu Amak, nak..sedari tadi belum terjual" lirihnya sambil berusaha menurunkan baskom berisi beberapa puluh bungkus tebu yang telah dipotong-potong. Buru-buru suamiku mengangkatnya. Ah, kecilnya tangan ibu ini. Tulang pipinya menonjol, hanya kulit yang membaluti tulang.

" Ibu mau, makan ?" tanyaku. 
"Makanlah bersama kami, biar  ditambah pesanannya", ajakku. 
Saat itu aku dan suami lagi makan malam. Pesan Pecel lele didekat sebuah taman. Makan malam romantis ala kami. Dinner without candle.

"Ndak..ndak, nak...amak sudah makan, sudah kenyang", jawabnya cepat sambil diiringi dengan gelengan kepala. Penolakan tersebut mengisyaratkan bahwa beliau tidak mau diberi. Jelas dari sorot matanya. Wanita tegar. 

Aku tahu ibu ini berbohong, lemes dan letih diwajahnya tak menggambarkan sedikitpun kalau beliau sudah makan, apalagi kenyang. 

"Beli tebu nya ya,nak..cuman seribu sebungkus", rayunya sambil mengambil dua bungkus tebu dan disodorkan kepada kami. Kuhirup nafas perlahan, senyumku mengembang. Duhai ibu tua, tubuhmu ringkih, tapi dirimu telah memberi pelajaran besar padaku. "Jangan pernah meminta-minta pada manusia". 

" Baiklah, bu..semuanya ada berapa bungkus ?, kami rame dirumah, nanti dibagi-bagi" timpal suamiku yang dari tadi cuma diam dan memperhatikan. Lelaki ganteng disampingku ini memang unik. Terkadang diam seribu bahasa, so wise. Tapi adakalanya juga suka bercanda ala komika. Kali ini, dia kembali mempesonaku.



Berfikirlah sebelum pergi


Seketika senyum ibu ini mengembang. Matanya melebar. kedua sudut bibir tipisnya yang tak lagi merah melengkung keatas. Sebuah kalimat terdengar jelas " Alhamdulillah..semoga rezeki anak amak bertambah", ujarnya. Dengan cepat kalimat toyib ini kami sambut, nyaris serempak : "aamiin..allahumma aamiin", tiga detik mata kami beradu pandang, layaknya tokoh kartun yang ada love-love merah keluar dari mata jika jatuh cinta. Aih...

Sembari ibu ini memasukkan tebu yang kami beli kedalam kantong plastik, iseng kubertanya,
" Kenapa ibu masih berjualan diusia setua ini, ibu masih sanggup ?"

"Mesti, nak" jawabnya cepat.
"Amak punya seorang anak perempuan. Suami amak telah lama meninggal. Sebetulnya anak amak sudah menikah. Harusnya amak sudah bisa hidup tenang tanpa beban. Tapi sekarang, suami dari anak amak pergi entah kemana, meninggalkan 5 orang anak yang masih kecil-kecil. Dia menghilang begitu saja, jangankan menafkahi, keberadaannya saja tiada kami ketahui. Anak-anak mereka luntang lantung. Anak amak sejak ditinggal tiba-tiba oleh suaminya, sepertinya tidak siap menerima keadaan. Dia putuskan merantau keluar kota, bekerja jadi tukang masak di kedai nasi orang. Berapalah uang bisa dihasilkannya. Dikirimpun tak cukup untuk biaya sekolah anaknya. Mereka berlima sekarang tinggal disini bersama amak. Makanya amak sekuat tenaga berusaha mencari tambahan. Selagi amak masih sanggup berjalan "

Mendengar penjelasan panjang lebar ini, sebuah fenomena yang sangat jarang terjadi padaku. Tiba-tiba selera makanku menguap entah kemana. Mungkin dengan mendengar kisah-kisah seperti ini bisa menjadi tips diet barangkali.

Reflek ku genggam tangan yang sudah sangat keriput ini. "Sabar ya, bu..jaga kesehatan ibu" lirihku . 
Dalam diam ku membatin : Sungguh ini beban yang tiada berkesudahan.





Jumat, 18 Maret 2016

Bola jadi Doa ?

"Selain kriteria utama, kamu punya kriteria tambahan tidak buat calon suami nanti ?"
Hmmm..klo bisa nih, aku pengen suamiku nanti bisa memainkan gitar, jadi kami kan bisa nyanyi bersama...hehehe"....
"Waaaah, so sweet..." sambutku spontan sambil menempelkan kedua telapak tangan dipipi dan menerawang keatas, menghayal.
"Klo kamu apa. Hel ?, ada jugakah ?" Ita tiba-tiba menepuk pundak yang membuat lamunanku buyar dan menguap. 
"Ada" jawabku lantang. "Aku mau suamiku nanti suka Bola. Cowok itu baru macho klo suka bola" jelasku. 

Itu adalah percakapan semasa kami gadis bersama teman-teman se kos. Setiap kali membahas tentang hal ini, kantuk langsung hilang. Gelak tawa membahana, saling melempar bantal jika ada yang kami rasa sangat menggelikan. Ah, masa lajang kadang seru juga untuk dikenang. Tapi ga mau ah diulang. Karna nikmat dihari yang sekarang tak tergambarkan.  

Alhamdulillah, ga berapa lama setelah itu, kami semua menikah. Masing-masing cuman berselang beberapa bulan. Kami dipertemukan Allah dengan lelaki kami masing-masing yang telah DIA janjikan. 

Pada saat bikin biodata ta'aruf, sama sekali tak ada kutuliskan kriteria tambahan yang sempat ku sebut-sebut sebelumnya. Yang paling ditekankan adalah sefikroh dan tertarbiyah. Sampai saat ta'aruf pun aku juga tak menyinggung tentang bola...hehehe.

Dikhitbah dan akhirnya akad nikah. Statuskupun berubah. Seorang Istri. Prosesnya sangat singkat. Hanya satu bulan saja. Kami hanya berjumpa tiga kali sebelum menikah. Saat ta'aruf, Khitbah dan Skrining di KUA. Telfonan langsung cuma satu kali. Pada saat, calon suamiku menanyakan mahar apa yang aku pinta. Selebihnya komunikasi diperantarai murobbi kami. Sempat temanku bertanya " kenapa mau menikah dengan lelaki yang tidak dikenal sebelumnya ?, tidak adakah keinginan untuk menyelidiki siapa dia ?. Saat itu tidak ada keinginan untuk melakukannya. Menurutku, tidak mungkin Murobbi ku memperkenalkan dengan orang sembarangan. Pasti beliau sudah tahu tentang track record seseorang sebelum memutuskan untuk "memproses" kami. Aku tahu siapa murobbiku. Sekian tahun ku dibinanya. Beliau bukan saja guru, tapi juga sudah seperti saudara kandung. Alhamdulillah, sampai sekarang kami hidup bahagia. Cinta kami bersemi ba'da akad. Sungguh Allah Maha Kuasa, tiba-tiba saja rasa cinta menelusup ke sanubari saat pertama kali kumencium punggung tangannya.



Ketika usia pernikahan kami satu tahun, aku semakin tahu klo suamiku sangat menyukai bola. Lemari pakaian kami yang tiga pintu, separuhnya dipenuhi oleh kaos bola. Uda ku, (demikian ku memanggil suami tercinta), takkan bergeming jika ku ajak bercerita saat lagi asyik nonton bola di depan televisi. Berbagai ekspresi terlihat saat Uda lagi serius nonton bola. Kadang mengepalkan tinju jika bola memantul dari tiang gawang hingga gagal gol, atau tiba-tiba memelukku saat klub kesayangannya mampu menyobek gawang lawan. Sesekali uda berteriak keras, "goooooooool" sampai lupa kalau kami tinggal diperumahan.

Pernah suatu hari listrik di rumah mati. Uda tiba-tiba merayuku : " Yang, kita keluar yuk....nyari makanan, uda mau traktir Cifa". Cifa (Asysyifa) adalah panggilan sayang Uda padaku. Hmm..aku senang, langsung ke kamar dan siap-siap untuk berangkat. Di jalan Uda melihat kiri kanan seperti sedang mencari-cari. Katanya mau makan soto, tapi beberapa tempat jualan soto telah terlewati. Aku diam saja. Akhirnya uda berhenti di Kafe yang ada menu soto plus TV nya nyala. Onde Mande, rupanya uda ngajak kluar gara-gara mau nonton bola..hahaha. Jadilah aku menemani sambil menikmati soto selama 90 menit. Hmmmm..., sungguh aku takkan protes tentang hal ini, karna ternyata, kata canda ku bertahun-tahun yang lalu dianggap sebagai doa. Dan saat ini aku membuktikannya. Diam-diam aku tersenyum, mau nanya sama Ita sahabatku dulu, "Apakah suaminya juga pandai bermain gitar ?"




Kamis, 17 Maret 2016

Perihnya "Cambuk" Bang Syaiha

Hari minggu kemaren, kembali si bungsu Audrey (adek paling kecil di grup ODOP Batch 1) mengocok gulungan kertas berisikan nomer peserta arisan blog. Cok..kocok..kocok, akhirnya menggelindinglah satu persatu. Aku tidak begitu mengikuti prosesnya, biarlah Audrey di Kepri sana yang sibuk, karna aku disini lagi silaturahim kerumah mertua. Ga enak klo mantengin HP terus menerus, mertua ngomong mantu sibuk otak atik gadget, ga sopan banget, ini bukan saat yang tepat. Jelang tidur barulah kubuka pesan-pesan grup ODOP di WA, lumayan, ada 163 notification. Mengingat saran Mbak Ella, sejak seminggu yang lalu memang nada dering WA saya  mute. Biar ga berisik..hehe.

Kubaca satu persatu percakapan teman-teman ODOP, kali aja ada pembahasan tentang materi apa gitu..hehe. Ternyata tak ada, isinya cuman candaan saja. Sesekali muncul Mas Septian, Kang Sae sebagai Pangeran. Disambut dengan bahasan hangat oleh para gadis-gadis dunia perODOPan. Seru juga. Aku jadi penasaran jika suatu saat kami semua sempat kopdar, apakah suasana masih seriuh didunia maya ?..hehe. Karena menurut pengalaman, kadang-kadang orang yang luwes bercakap dan bergurau didunia maya, sedikit kaku didunia nyata. Bahkan berbanding terbalik malah..pendiam. Aku sering membuktikan...hehehe. Tapi ini tentu tidak mutlak, mungkin kebetulan saja. Jangan kawatir gayes..

Teruusss..terus..., geser kebawah, lanjut..oooppss. Akhirnya kutemukan. Empat nama pemenang arisan. Mereka adalah :
  1. Mbak Rina : http://rinalaa.blogspot.co.id/
  2. Ulfa Desiliana :http://lianaulfa93.blogspot.co.id/
  3. Mbak Leni :http://celotehanku7.blogspot.co.id/
  4. TS Sri : https://shreewhynie.wordpress.com/
Bukan tentang hasilnya, tetapi sekeras apa kita telah berusaha

Malam ini sungguh ku tak tau mau bilang apa tentang mereka. Tetapi yang pasti, keempat orang wanita manis ini adalah orang-orang yang punya bakat menulis, semangat belajar menulis dan pastinya bercita-cita menjadi Penulis. Benerkan ?...Bener dunk. Kalau tidak, ngapain juga kita semua yang ada di grup ini betah banget nulis tiap hari. hehe.

Kita semua tahu, Sukses itu berbanding lurus dengan kesungguhan. Jika sungguh-sungguh dan bertekad kuat untuk mewujudkannya, cepat atau lambat kita akan sampai dipuncak. Jika niat kita baik, Allah akan bimbing kita untuk mewujudkannya. Demikian juga dengan proses belajar yang sedang kita jalani ini. Kesannya mungkin santai. Lho kok santai ?, memang iya kan teman ?. Mentor kita ga pernah marah, ga nulis tiap hari ga apa-apa. Hilang dari peredaran berhari- hari dan kemudian muncul lagi ga apa-apa, ikut arisan blog tapi ga nyetor tulisan tantangan ga apa-apa. Banyak tak apa-apanya. Nangkring digrup, tapi ga nulis dan ga keluar sepertinya juga ada...hahaha. Bang Syaiha baik banget ya..

Tapi klo difikir-fikir kalimat yang dikeluarkan Bang Syaiha waktu itu kan bener juga : " Yang mau jadi Penulis kan situ, jadi mau nulis atau tidak terserah situ" (kurang lebih Bang Syaiha bilang begitu kan, ya?. Maaf , bang..jika salah ). Begitulah yang saya tangkap. Bagi saya yang sangat perasa, justru kalimat seperti itu sangat menusuk..(haaa...tajam donk..hehhe) plus jadi cambuk. Maksudnya begini, Bang Syaiha telah bermurah hati menyisihkan waktunya untuk kita (Alif sakit saja grup tetep di intip-intip), jadi kalau wadah ini tidak dimanfaatkan, setidaknya menjadi motivasi untuk menulis setiap hari, ya..yang rugi itu bukan Bang Syaiha nya. KITA yang rugi. Bang Syaiha mah, Penulis yang sudah jadi. Buktinya Sepotong Diam dah terbang kesana sini..heheh.

Nah, sebagai bukti keseriusan kita, bagi yang telah membaca tulisan ini, silahkan blog walking keempat blog diatas. Insyaallah, akan teman-teman temukan ilmu setelah membaca tulisan-tulisan keren mereka. Bukankah blog walking juga sebentuk usaha untuk mencapai cita-cita kita ?

Mari...


*Tulisan ini adalah sebentuk nasehat untuk diri saya dalam memenuhi tantangan arisan blog ODOP




Rabu, 16 Maret 2016

Ketika Tak Semua Pertanyaan Bisa Terjawab

Saat itu kududuk tak begitu jauh darinya, hingga sangat jelas terdengar kalimat yang diucapkan sambil menunduk, meskipun lirih dan sayup. Riuh tawa dan seloroh sambung menyambung yang tertuju padanya masih belum reda. Dia tak membalas sepatah katapun, hanya tersenyum lalu mengarahkan pandangan ke lantai. Lututnya bergoyang, menandakan betapa dia bosan dan ingin meninggalkan ruangan ini. Meskipun pintu terbuka lebar, sebagai laki-laki dewasa ini tak akan dilakukannya. Apa kata dunia nanti ?, jangan-jangan jika itu terjadi, bertambah pula episode ledekan dikemudian hari. Laki-laki cemen barangkali ?. 

Astaghfirullahaladzim ucapnya berulangkali. Lelaki lajang disebelah ku ini beristigfar. Sebuah kalimat permohonan ampun pada Allah SWT, sebagai tanda pasrah atas ujian yang dialaminya. Tapi pada saat itu menurutku, semua yang menjadikan nasibnya sebagai leluconlah yang patut minta ampun pada-NYA. Lelaki ini tampak merasa terzholimi. Hati dan perasaannya. Sejak saat itu aku bertekad dalam hati, tak akan lagi ikut betanya ; "Kapan mau nikah?". Karna ku tahu, saat ini dia juga sedang menunggu jawaban dari Robb nya. Tak semua pertanyaan bisa terjawab olehnya.



Kawan, terkadang kita lupa menghadirkan "rasa" saat bicara. Entah itu bermaksud canda atau bertanya. Berceloteh sesuka hati tanpa memperhatikan situasi. Bisa saja kita berdalih, membuat pembenaran, "bukankah itu tanda kami perhatian ?". Sederhana. Simple. Yang penting kita terbebas dari vonis bersalah. Tapi tahukah kita bahwa kalimat singkat terkadang begitu menghunjam bagi seseorang ?

Menikah, siapa yang tidak mendambakannya. Apalagi ketika usia sudah "teramat matang". Datang kepertemuan ditanya, ada acara keluarga didesak, kumpul-kumpul sama teman dijadikan bahan candaan. tidak jarang mereka yang sedang menanti ini merasa alergi bertemu orang-orang. Lebih nyaman menyendiri. Semoga bukan kita salah satu penyebab mereka menarik diri. 

Lalu apa yang harus kita lakukan?
Jika rasanya tak bisa membantu, mungkin lebih baik kita diam daripada sekedar mempertanyakan sesuatu yang mereka sendiri tidak tahu jawabannya. Kenapa ? , karna bisa saja saat ini orangtuanya juga sedang merintih berdoa agar Allah memberi kemudahan jodoh bagi anaknya, atau mereka sendiri juga punya masalah yang tidak kita ketahui. Jika bisa, pasti lah semua orang ingin hidupnya lancar jaya. Kuliah, kerja, menikah, punya anak,dapat menantu, dikaruniai cucu, lalu meninggal dan masuk surga. Tapi hidup tidak sesederhana itu bukan ?, pasti ada liku-liku dan perjuangan. Setiap orang punya takdir masing-masing. Dan Allah telah "mengukur" seadil-adilnya. 

Sekali lagi, Jika kita tak berniat membantu, berhentilah bertanya, Karna tak semua pertanyaan bisa terjawab. Atau jika itupun sulit, begini saja "coba bayangkan seolah-olah kita berrada pada posisi mereka", dan rasakan sakitnya.

Sekian









Selasa, 15 Maret 2016

Mau Tahu Efek Samping ODOP ?, Temukan Disini !!

Mungkin anda sudah tahu tentang ODOP bukan ?, ya meskipun belum begitu tenar, setidaknya barangkali sudah ada yang mendengar. ODOP adalah singkatan dari One Day One Post, yaitu sebuah komunitas yang anggotanya memiliki komitmen untuk menulis setiap hari. Diprakarsai oleh seorang Penulis yang mumpuni bernama Syaiful Hadi atau yang slama ini lebih dikenal dengan panggilan Bang Syaiha. Disini seluruh anggota tidak sekedar menulis saja, tetapi juga dibekali dengan pengetahuan terkait dunia kepenulisan secara bertahap. Dari minggu ke minggu ada tantangan yang berbeda-beda. Dan semua tantangan itu, Bang Syaiha lah yang merumuskannya. Konon kabarnya, para penulis terkenal yang selalu produktif menelurkan karya-karya luarbiasa, dulunya juga melakukan hal yang sama. Dengan berlatih menulis setiap hari sambil belajar berbagai teknik kepenulisan, para pemula akan menjadi terbiasa merangkai kata menjadi tulisan yang menarik. Masuk akal kan, ya?


ODOP

Alhamdulillah saya bergabung sejak tanggal 11 Januari 2016. Berdasarkan pengalaman pribadi yang saya dapatkan selama berada di komunitas ini, ada 6 Efek Samping  ODOP. Silahkan disimak. 

1. Punya Blog Cantik yang selalu terisi
Sebetulnya sebelum bergabung dengan ODOP, saya sudah memiliki blog juga. Hanya saja karna menulisnya sebulan sekali bahkan 3 bulan sekali, jadilah blog saya seperti kuburan. Sepi. Saking jarangnya nulis di blog, saya sampai lupa password nya..hehe. Nah, sejak bergabung dengan komunitas keren ini, saya jadi termotivasi untuk menulis setiap hari, Jadilah ketika login to my blog, ada suatu kebahagiaan dihati, beberapa tulisan buah fikiran sendiri nangkring disini. 

2. Semakin semangat Blog Walking, bukan Stalking
Sejak gabung ODOP, saya punya hobi baru. Jalan-jalan dari blog ke blog. Bahasa kerennya Blog Walking. Membaca tulisan para blogger dan meninggalkan jejak seakan memberi kenikmatan tersendiri. Dengan membaca tulisan yang berbeda-beda, akan banyak sekali ilmu yang bisa diraup. Sungguh, ini bermanfaat sekali, dari pada sekedar mantengin HP lalu stalking.

3. Semakin banyak kenalan
Entah terkenal atau tidak, yang pasti sejak bergabung dengan ODOP kenalan saya jadi makin bertambah. Bagaimana tidak ?, Anggota ODOP itu berasal dari berbagai penjuru tanah air, bahkan juga ada yang berdomisili di luar negri. Nah, di grup kami semua cukup akrab. Saling memotivasi dan mnyemangati. Terkadang, bahasan kita tak melulu tentang kepenulisan. Tetapi juga tentang dunia blogger dan IT. Bahkan, kadang-kadang ada juga percakapan yang nyerempet pada bahasan lain yang ujung-ujungnya tetep saja kembali pada yel yel semula. Ayo Menulis...Menulis Setiap Hari..Menulis Untuk Keabadian...(semangatnya..hehe)

4. Belajar Menulis Tanpa Perasaan Tertekan
Meskipun di grup ini tidak bisa dibilang semua anggota nya penulis pemula (buktinya sudah ada yang punya antologi, memenangkan lomba kepenulisan bergengsi), tapi tidak ada yang merasa paling hebat. Setiap kritik dan saran disampaikan dengan sangat bersahaja. Bahkan sekelas Bang Syaiha saja, ga mau memberi kritik pedas yang mematikan kreatifitas. Menurut beliau, kami ini (para pemula), ibarat tanaman yang baru tumbuh. Yang dibutuhkan saat ini adalah wadah yang nyaman tempat bertumbuh. Jika buru-buru di kritik pedas, smangat akan menguap dan tidak mau lagi belajar. Kurang lebih begitu. Sungguh, suasana seperti ini lah yang saya cari. Setidaknya untuk saat ini. Ketika saya baru mencoba menulis dan menggali ide-ide yang masih hilang timbul. Trimakasih, Bang Syaiha..meskipun lambat. Saya yakin suatu saat akan sampai jua.

5. Punya Target Membaca.
Mau jadi Penulis harus rajin membaca dan menulis. Kalimat itulah yang saya dengar dari seorang Penulis Kondang saat ini ; Tere Liye. Ini 1000 % bener. Alhamdulillah, sejak gabung ODOP setidaknya saya tuntaskan membaca 3  buku setiap bulannya. Target saya 1 buku perminggu. Terserah buku apa saja, Novel, buku motivasi atau yang lainnya. Manfaatnya ?, anda pasti juga tahu kan ? 

6. Saya sedikit menjadi lebih dikenal
Meskipun ini adalah bonus tambahan, tapi terkadang saya juga senang. Ketika ada yang bilang " Helen, tulisannya bagus. Uni selalu membacanya". Kalimat sederhana yang membuat hati berbunga-bunga. Pastinya menjadi motivasi untuk belajar lebih baik lagi. Apalagi saat ada seorang admin web yang waktu itu menghubungi saya " bolehkah tulisannya saat masukkan ke Web kami?". Hehehe.. itu kapan? ketika ada tulisan nyentrik saya yang menembus 8000 lebih penayangan dalam sehari. Di share banyak orang ya rame deh yang baca..hehe..itu kenapa ? karna saya serius belajar  di ODOP. 

Demikianlah 6 Fakta tentang Side Effect of ODOP
Terimakasih...Semoga Bermanfaat..

Senin, 14 Maret 2016

Keikat Sayur dan Sekeping Rasa (Sebuah Catatan Tentang Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan )

" Sepertinya kami tak sanggup lagi membayarnya, nak. Jangankan untuk membayar iuran  BPJS, makan saja susah". Kami paham sekali manfaatnya, karna itulah tahun lalu kami sekeluarga dengan penuh kesadaran mendaftarkan diri dan membayar iuran tiap bulan dengan teratur. Tetapi belakangan kehidupan terasa makin sulit, biaya kebutuhan pokok sehari-hari semakin meningkat, kami betul-betul merasa kesulitan". 

Kusimak baik-baik semua keluh-kesah ibu paruh baya ini. Sudah lama kumengenalnya, Meskipun cuma tamatan SMP, ibu 5  orang anak yang semuanya masih sekolah dan kuliah ini menurutku adalah seorang warga negara yang baik. Setiap kali PILKADA, PILEG maupun PEMILU, beliau sekeluarga lah yang duluan ke TPS. Penuh kesadaran bahwa cuma dengan cara itulah bisa dibuktikannya kecintaan pada tanah air, ya..dengan ikut berkontribusi disetiap hajatan nasional. 

Demi melihat pasrah diwajah perempuan ini, rasanya tak tega ku menyampaikan berita yang baru saja terdengar. Perpres Nomor 19/2016 yang ditandatangani pada tanggal 29 Februari kemaren tentang kenaikan iuran BPJS tentu akan membuatnya semakin terpukul ( Baca juga : DPR Minta Perpres Kenaikan Iuran BPJS Diinvestigasi ). Mungkin sebahagian masyarakat bisa saja tak peduli, tapi sebagai seorang Warga Negara dengan wawasan yang cukup baik, tentu ini menjadi bahan fikiran baginya. Harus berapa lagi untung menjual sayur keliling harus disisihkannya untuk membayar iuran ini ?, sedang dengan nominal sebelumnya saja sudah sangat menyulitkannya. Beliau sekeluarga adalah peserta mandiri.


Sejenak kulempar pandangan ke hamparan sawah yang membentang dihadapan kami. Menyaksikan burung jalak yang bertengger dipunggung kerbau membuat ku tersenyum. Tiba-tiba teringat Pak Kasnadi, guru Biologi di SMP dulu. Ini contoh simbiosis mutualisme jelas beliau saat itu. Aku menghafalnya dengan baik. Sambil meghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, ku kumpulkan kembali fikiran pada bahasan tadi.

Bicara tentang BPJS, aku teringat pada "rezeki" yang rutin kami terima sekitar 2 tahun belakangan ini sebagai tenaga kesehatan di Puskesmas. Rezeki itu bersumber dari dana Kapitasi. Mungkin ini adalah semacam uang jasa yang kami terima atas pelayanan yang telah kami berikan pada peserta BPJS kesehatan. Jumlah yang diterima untuk masing-masing puskesmas tentu berbeda-beda. Dan sampai ditangan kamipun nominalnya tidak sama, tergantung poin masing-masing profesi serta pertimbangan lainnya. Kurang lebih begitulah. Terlepas dari berapa nilai "logam-logam" itu, ada sesuatu yang mampir dibenakku. "Jika sampai ada air mata dari yang papa atas bahagia yang kita rasa, biarlah tiada lebih diterima". Guna melayani bukankah untuk itu kami digaji ?, jika kesibukan bertambah, ah..seberapalah. Ada program-program tambahan lho disini..ah, sudah maksimalkah ?

Atau tidak adakah cara lain agar yang miskin tak lagi makin terbebani ?. Sudah habiskah celah untuk efisiensi ? Mewah menjadi sedikit lebih sederhana barangkali.  Sudah terukurkah kucuran dana dengan kualitas layanan ? atau apakah semua senang dengan pepatah minang ini " minyak habis samba tak lamak". Maksudnya ?, pelajari sajalah...

Kami tumpangkan harapan rakyat pada mu wahai Pemimpin..
Jangan lagi katakan rakyat tak paham, tapi mungkin "kita" yang gagal memahaminya...

Yang miskin itu banyak, Tuan..
Jika tidak percaya pergilah ke pasar rakyat, maka akan Tuan jumpai ibu-ibu yang tertegun sambil berfikir "mau diapakan uang 20ribu ini? semua mahal " dan akhirnya dia kembali melangkah pulang..











Jumat, 11 Maret 2016

Semangat Besar di Apotek Mini

Apotek

Pagi ini segar sekali. Aku baru saja balik dari lapangan balaikota. Senam. Semoga dengan gerakan teratur yang kulakukan penuh semangat tadi, bisa mengurangi sekilo dua kilo berat badanku..hehe..Semudah itu kah ?

Selesai senam, ku langsung balik ke Puskesmas. Ga berminat juga nyari sarapan berlama-lama. Nanti sajalah. Toh dengan cadangan lemak yang lumayan banyak, aku tak akan mati kelaparan dengan hanya menunda sarapan sejam dua jam.

Sesampai di Puskesmas, ku masuk keruangan sempit ini. Ukurannya 3x2meter, tapi karna bentuknya letter L, jadilah luasnya 4 meter saja. Sebuah ruangan yang tidak sesuai standar apotek seharusnya. Tapi mau bagaimana lagi, mau tidak mau kami harus tetap semangat melayani. Meskipun kadang ada rasa kesal " ini kenapa ya? Puskesmas dibangun baru, tapi ruangan apotik alakadarnya, sama sekali tak sesuai standar". Jika dikatakan tak ada koordinasi, cukup Allah sajalah yang menjadi saksi. Betapa jauh sebelum pembangunan sudah kami sampaikan, ". Ini lho, ukuran apotik yang ideal. Ada wastafel dan sebagainya. Tapi ya beginilah. Mungkin juga karna Puskesmas ini dibangun dari dana bantuan, jadi kami harus ikhlas menerima. Toh nanti jika ingin Puskesmas ini di akreditasi, mereka akan pusing sendiri. Kenapa ?, karna satu saja ruangan tidak memenuhi standar, ya gagal lah kisah akreditasi yang di dengung-dengungkan. 

Walaupun ruangan ini kecil dan sangat mungil, sebagai penanggung jawab ruangan tetap ku upayakan pelayanan dan tatanannya seideal mungkin. Diruangan ini ada sebuah lemari tempat menyimpan obat yang di stock untuk 1 bulan pemakaian. Posisinya menghadap ke pintu utama (memang ada pintu lain?..hehehe..tentu saja tidak ). Obat-obat disusun di lemari ini secara alfabetis, mulai dari Amoksisilin, Antasid, Ambroksol, Betahistin Mesilat, Calsium Lactas, Deksametason dan seterusnya. Tujuannya apa ? agar memudahkan mengambilnya. Obat juga disimpan dengan sistem FEFO (First Expired First Out), artinya obat yang tanggal kadaluarsa yang lebih dekatlah yang duluan dikeluarkan. Tujuannya untuk mengendalikan agar tidak banyak obat yang kadaluarsa.

Disisi kiri ada sebuah etalase. Obat-obat yang telah dikeluarkan dari lemari untuk pemakaian harian diletakkan disini. Tetap disusun alfabetis, dan dikelompokkan berdasarkan bentuk sediaannya. Salep berderet sesama salep, obat tetes juga begitu. Jadi sebanyak apapun pasien, pelayanan bisa dilakukan dengan cepat dan insyaallah akurat. Disamping etalase dekat kaca menghadap keluar, diletakkan sebuah meja kecil. Ya, terang saja meja kecil, besar dikit tak kan bisa masuk. Lha, tadi saya bilang sempit kan ?. Disinilah kami meracik obat seperti puyer. Di atas meja berjejer peralatan bikin puyer, lumpang, stamfer, sudip dan kertas perkamen. Ada juga lem dan etiket serta spidol permanen. Untuk embalase dan lain-lain kami letakkan  di atas etalase. 

Ruangan apotek kami juga dilengkapi dengan sebuah komputer dan jaringan internet. Kami gunakan komputer ini untuk menginput penggunaan obat harian, kedepannya akan dilaksanakan SIKDA. Menunggu kelengkapan sarana dan prasarana dari bagian lainnya dulu. 

Alhamdulillah, meskipun ruangan ini sempit, kami bisa melaksanakan pelayanan farmasi dengan baik. " Hati se di palapang " kata orang Minang. Maksudnya, Hati saja dibikin lapang, biar tidak suntuk dan bisa tersenyum. Syukurlah disini ada tiga orang asisten apoteker yang penuh semangat setiap hari.

Meskipun apotek nya begitu, ada satu hal yang bikin saya senang. Untuk memberikan pelayanan farmasi yang lebih baik, dan menjalankan peran  sebagai Apoteker, saya punya ruangan sendiri. Sebuah ruangan Konsultasi Obat. Letaknya sekitar 3 meter dari apotek. Jadi untuk pasien yang akan konsultasi terkait obat , saya bawa ke ruangan ini.Seru juga, jika emak-emak curhat tentang penyakit dan obat yang digunakannya di 'bilik' ku ini.
Ruang Konsultasi Obat

Demikianlah sedikit tentang gambaran ruangan kerjaku. Apapun adanya, aku sangat mencintai dunia farmasi. Ku berharap ini akan menjadi ladang amal. Semoga apa yang dilakukan menjadi pemberat timbangan kebaikan di hari perhitungan nanti. Insyaallah..


catatan : Tulisan ini untuk memenuhi tantangan ODOP tentang deskripsi ruangan.