Tentang Perjalanan

"Hidup adalah tentang sebuah perjalanan, dimana seseorang yang diam menetap tidak akan bisa berkembang sedangkan yang berpindah-pindah selalu mendapatkan kejutan dari sang pencipta yang membuat kita berbeda dari orang lain."

Tentang Kehidupan

"Jangan takut oleh kemarahan orang sehingga kita takut berkata dan bersikap jujur."

Tentang Kesungguhan

"Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kesungguhan."

Tentang Kebijaksanaan

"Orang bijak menemukan kebijaksanaannya melalui kerasnya kehidupan."

Tentang Kesabaran

"Sejak kita menginginkan kebahagiaan dan kesuksesan, sejak itu pula kesabaran menjadi kewajiban kita."

Kamis, 11 Agustus 2016

Jangan Lukai Hatinya, Doakan Sajalah..



Wajah lelah itu hanya menunduk, sambil tetap tersenyum. Aku tahu, kalimat yang dilontarkan oleh seseorang barusan begitu membebani perasaannya. 

"Harusnya carilah teman (suami), biar tak lagi sendirian. Mungkin saja dengan demikian penyakit akan sembuh". 

Sebuah kalimat penuh perhatian (barangkali), ketika melihat sahabat yang sudah sangat 'matang' masih hidup sendiri. Katanya 'peduli', tetapi tidakkah ada tempat yang sunyi untuk sekedar menasehati?. 

Kucoba alihkan pembicaraannya, agar tidak diteruskan hingga membuat wajah pucat itu semakin terluka. 

"Minta saja temani sama saudara, Aisyah..takutnya jika di rumah sendiri, lalu tiba-tiba pusingnya kambuh ga da yang tahu", sambil memegang tangannya kupilih kata agar gadis cantik ini tak lagi menunduk. Aku berharap dia paham arti genggaman tanganku lewat bahasa kalbu, " sabar ya, kawan". Ku lihat dia tersenyum, cahaya kembali membinar di bola mata perempuan berjiwa kuat ini.

Engkau cantik kawan, sholehah dan baik budi. Jika saat ini separuh Dien belum tersempurnakan, itu bukan salahmu. Akan ada saat yang tepat dengan skenario spektakuler yang Allah siapkan. Rasaku membatin.

Entah 'semangat' dari mana, yang tadi berceloteh kembali menimpali.
"Beneran, jika sudah ada pasangan, jadi yang nyesek di kepala bisa keluar", sambungnya berapi-api.

Astaghfirullah..

Ingin kumenimpuknya dengan bantal yang ada didekatku, biar ia diam dan tak lagi mengeluarkan kalimat yang sangat tidak sesuai dengan situasi dan kondisi.


***

Skenario hidup manusia itu berbeda-beda. Ada yang lancar jaya bahkan terlihat tanpa halangan. Pendidikan lancar, setelah wisuda langsung kerja, ga berapa lama berselang lalu ketemu jodoh. Sebulan menikah langsung hamil dan ditahun pertama pernikahan sudah punya anak. Ada juga yang tersendat-sendat, tapi tidak di semua bagian pastinya.  Bahkan ada yang tertatih-tatih hingga letih. Tetapi tahu kah kita?, semua yang dijalani tak pernah luput dari pengamatan-NYA.

Dia, Allah yang Maha Kuasa, tak pernah tidur, tak pernah bosan mendengar rintihan-rintihan hamba-NYA. Kasih sayangnya tiada batas. meski terkadang kita selalu bertanya "kenapa?". Padahal Allah yang Maha Tahu, segala yang terbaik untuk kita.

Heeeiii!
Anda siapa?
Menceramahi, melukai, merasa paling tahu?

Sampai dimana pengetahuanmu tentang perih yang menyembilu?
Sampai dimana engkau tahu setiap kegalauan yang menyiksa itu?
Tahukah engkau secara detail permasalahan yang berjibaku?

Jangan tambah lagi luka di hatinya.
Jangan lagi bebani dia dengan pertanyaan-pertanyaan tak perlu,

Cukup doakan, atau bantulah dalam senyap.
Karena tentang iman, Allah penilainya. 



*Bersama Lembayung, Padang 110816


Senin, 01 Agustus 2016

Berapa Lama Sebaiknya Tinggal Di Rumah Orang Tua Setelah Menikah?



Pernikahan, adalah momen yang dinanti-nanti oleh siapapun yang masih lajang atau belum memiliki pasangan. Bagaimana tidak, hidup bersama dalam ikatan pernikahan jauh lebih indah. Beban hidup bisa dipikul bersama, berbagi cerita, suka dan duka. Akan lebih bermakna  lagi jika segala keindahan itu ditujukan semata-mata karena Allah, diniatkan sebagai ibadah, berharap kehidupan yang penuh berkah. Insyaallah..

Menikah, tidak cukup hanya bermodalkan hasrat dan keyakinan semata. Tetapi yang  lebih penting adalah menyatukan visi dan misi rumah tangga yang akan dibangun. Itulah sebabnya, dalam Islam perlu dilakukan proses ta’aruf singkat (bukan berkhalwat), yang salah satu tujuannya adalah mengemukakan visi dan misi tersebut. Diawal perlu disampaikan, Rumah Tangga seperti apa yang akan dibangun, konsepnya bagaimana, langkah kedepannya seperti apa. Jika sudah ditemukan persamaan konsep, silahkan lanjut ke proses khitbah (meminang).

Anda dan orangtua setidaknya terpaut perbedaan usia minimal 17 tahunan. Hidup dizaman yang berbeda dan pastinya akan melahirkan pola pikir yang tak sama. Di dunia, meski kembar identik sekalipun, pasti akan memiliki perbedaan sifat dan sikap. Tak ada yang sama persis. Dalam pernikahan, perbedaan-perbedaan inilah nantinya yang akan melahirkan ‘pergesekan”.

Seminggu dua minggu setelah menikah, adalah masa-masa manis beradaptasi dengan keluarga yang baru saja disatukan. Masih banyak toleransi dan saling memahami.  Jika setelah resepsi pernikahan kita tinggal di rumah orang tua atau mertua, paling lama hanya butuh waktu tiga bulan hingga melahirkan sebuah penilaian. Setelah itu akan muncul ‘ekspresi” dan intervensi. Entah itu tentang basa basi, tatakrama atau hal-hal lain yang bisa saja dikomentari pihak ketiga atau sebaliknya. Itu mutlak ada. Yang berbeda hanyalah cara mengungkapkannya. Ada pihak yang ekspresif, ada juga yang diam tapi sewaktu-watu dapat meledak dan merusak. Apalagi jika di rumah tersebut juga ada saudara ipar dan dan keluarga lainnya. Semakin banyak lah pasang mata yang memandang lalu berkumandang.

Jadi jika anda adalah pasangan muda yang hendak menikah, jika tak ada hal lain yang mengharuskan anda tinggal serumah dengan orang tua ataupun mertua. Segeralah berfikir untuk mencari rumah untuk tinggal berdua. Maksimal 3 bulan setelah pernikahan. Meskipun rumah kontrakan,  itu jauh lebih baik. Karna selain melatih diri untuk lebih mandiri, anda juga  akan lebih mudah mengayuh biduk menuju arah yang disuka.  Kita sendiri yang tentukan. Karena terkadang, justru dengan berjaraklah ikatan kekeluargaan itu terasa kuat. Pastinya, dengan tetap menjaga silaturahim.

Percayalah..begitu akan lebih baik.



Padang, 2 Agustus 2016

Minggu, 31 Juli 2016

Lelah Yang Belum Bermuara (Kisah Dahsyatnya Kasih Sayang Seorang Ibu)



“Antrian nomer berapa, nak?”, sapa perempuan yang baru saja duduk disebelahku. Dari awal masuk pintu ruangan yang begitu sejuk ini, ibu berusia skitar 70 tahunan ini memang telah menarik perhatianku dan mungkin juga orang-orang yang duduk berjejer menanti giliran nomernya dipanggil.

“Nomer 46 B, bu. Klo ibu nomer berapa?”, kubalik bertanya.
“108 A, nak”, jawabnya sembari memperlihatkan kertas kecil hasil print out ketika masuk tadi.

Kami sama-sama sedang antri disebuah bank. Sengaja pulang kantor kulangsung kesini, minta pergantian kartu ATM yang sudah melewati limit waktu. Transaksi perbankan sekarang memang sangat mudah, bahkan  seseorang bisa berkirim uang dari mana saja dan kapan saja dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Praktis, aman dan nyaman.

“Ooo, ibu nanti ke teller ya?. Klo saya ada keperluan sama customer servicenya, bu”, sambungku.
“Iya,nak..ibu mau berkirim uang untuk anak ibu. Dia di Jakarta”, jawabnya tersenyum sambil merapikan jilbab yang sedikit miring hingga anak-anak rambut yang mulai memutih menyembul keluar. Matanya terlihat lelah. Tiba-tiba aku teringat nenek. Kira-kira beliau seusia ibu ini.

Antrian yang cukup lama membuatnya punya kesempatan bercerita. Aku tidak banyak bertanya, hanya saja si ibu menyambung sendiri keterangan demi keterangan. Tiba-tiba ku tersenyum sendiri. Teringat masa-masa yang dilalui. Sejak SMP sampai sekarang  aku sering dijadikan “tong sampah” kisah-kisah. Meskipun tak mengerti apa yang sedang mereka ceritakan, tetapi yang kulakukan hanya lah mendengar. Setelah selesai, mungkin hanya bisa sedikit memberi saran. Itupun jika aku paham. Entah tentang pacar-pacar mereka, kejahatan seksual yang mereka alami atau kisah-kisah rumah tangga dari yang tragis sampai berseri namun penuh duri. Ah..inilah yang namanya hidup. Rangkaian kisah demi kisah yang pasti berakhir. Kadang karena keseringan mendapat cerita inilah yang membuatku sedikit hati-hati dalam segala hal.

“Anak ibu empat orang, 2 pasang. Semuanya merantau. Bapak sudah lama meninggal. Tapi sanak saudara ada disekitar rumah, jadi ibu tak kesepian. 3 orang anak ibu sudah menikah. Semuanya macam-macam perangainya. Mereka sudah berkeluarga tapi sering minta uang pada ibu. Ada-ada saja alasannya. Yang namanya seorang ibu, tentu tak sampai hati kalau anak sudah mengeluh kesusahan. Syukurlah ibu masih mampu berdagang. Sedikit-sedikit uang ibu tabung. Tapi setiap terkumpul, ada saja anak yang membutuhkan”.

Kusimak curhatan ibu ini dengan seksama, sambil menatap bola matanya yang tak lagi jernih. Sekuat atau sebugar apapun beliau, pasti setiap sendi dan organ tubuh telah kurang fungsinya termakan usia. Tapi semangatlah yang membuatnya kelihatan kuat. Seharusnya beliau sekarang telah beristirahat. Setidaknya rehat dari memikirkan kebutuhan anak.  Tapi nyatanya? Lelah belum berakhir.

“ Jadi sekarang ibu mentransfer uang untuk anak ibu yang mana?. Yang suaminya pengangguran, atau anak lelaki ibu yang sakit itu?”, kali ini aku yang penasaran.

“Bukan, kalau mereka bulan lalu sudah ibu kirim sedikit uang. Kali ini ibu  mau memasukkan uang ke rekening anak ibu yang bungsu. Sebetulnya dia sudah bekerja dan tidak meminta. Tapi ibu tahu, berapalah gaji sebagai pelayan toko. Dia anak bujang. Ibu kasihan. Dia tak mau sebetulnya ibu kasih uang, tapi ibu merasa tak adil, kakaknya yang telah berkeluarga saja ibu bantu. Tapi dia tidak pernah. Ibu takut nanti dikemudian hari dia mengumpat pada ibu”, sambungnya.

Allahu akbar", desisku membatin. Sebetulnya hatimu terbuat dari apa, bu?. Susah payah engkau membesarkan mereka sampai akhirnya semua beranjak dewasa, bahkan telah berkeluarga. Dan sekarang, semua keluhan mereka engkau tampung dan fikirkan?. Bukankan sekarang anak gadismu sudah bersuami dan punya tanggung jawab penuh padanya? Dan bukankah anak lelakimu sudah tumbuh kekar dan punya bekal kaki dan tangan untuk mengais rezeki yang tersimpan dibumi atau menggantung dilangit?, lalu kenapa masih bersandar pada tubuh renta yang setiap hari harus menjual sayur dan kelapa?

Mungkin nasib itu berbeda-beda. Tetapi sebagai anak, jika telah dewasa apalagi telah berkeluarga, usahakanlah untuk tidak menceritakan kesusahan pada orang tua. Jika tiada bisa memberi tak apa-apa. Tetapi ceritakanlah hal-hal bahagia saja. Karena sudah menjadi fitrah orang tua memikirkan anak sepanjang hayatnya.

Kugenggam tangan si ibu yang mulai keriput, kukatakan “ sabar ya, bu..Allah tahu betapa dalamnya kasih sayang ibu pada mereka. Jaga kesehatan ibu”.

“Makasih, Nak. Anak ibu ini Bidan ya?”, tanyanya sambil mengamati seragam putih yang kukenakan.

“Tidak, bu..Saya Apoteker. Bagian Obat”, kupilih kata yang mengundang anggukan dan senyumnya tanda mengerti.

***
NOMER ANTRIAN 46B, CS 2. Melalui pengeras suara giliranku dipanggil. Setelah pamit pada ibu tadi, aku melangkah gontai menuju meja CS. Menarik nafas dan melepaskannya perlahan.





Senin, 27 Juni 2016

Menyulam Luka (3) - Perih!



"Ini Vinny, Mi.. Pi",  Mas Tomy memperkenalkanku santun. Dengan sopan kutersenyum pada mereka sambil mengulurkan tangan. Belum sampai disambut, Maminya Mas Tomy cepat-cepat mempersilahkan duduk. Sementara Papinya tak mengalihkan pandangan sedikitpun dari koran yang sedang dibaca. Aku sedikit linglung. Sejenak suasana hening. Yang terdengar hanyalah detak jarum jam yang mengiringi irama degup jantungku. 

Sesungguhnya perasan gugup seperti ini bukanlah karakter seorang Vinny. Aku adalah seorang gadis periang dan penuh percaya diri. Dulu di kampus, aku cukup dikenal. Selain seorang aktivis, Si Mbok juga mewariskan raut cantik di wajahku. Setidaknya begitulah kata teman-teman. Hanya saja, karna beban dan pahitnya hidup yang kerap mendera, Si Mbok ku kelihatan lebih tua dari usianya. Jika dibandingkan dengan wanita lima puluh tahunan dihadapanku ini, tentu dia kelihatan lebih cantik, terawat pastinya.

Tak biasa ku diperhatikan sedetail ini. Tatapan Maminya Mas Tomy seolah-olah sedang mengamati kemasan biskuit di swalayan. Dilihat tanggal kadaluarsanya, komposisinya dan bila perlu izin produksinya. Ya, Allah...sedang berada dimana aku ini, batinku. Jam dinding seakan rusak, seolah waktu tak bergerak.

"Sudah lama mengenal, Tomy?", tanya sang Nyonya
"Vinny, Mi..", sela Mas Tomy. Aku tau Mas Tomy mulai risih dengan sikap kedua orangtuanya.
Tanpa menunggu koreksi, ku jawab saja , " Mas Tomy senior saya, Tante. Kami dulu kuliah di jurusan yang sama. Saya kenal Mas Tomy sejak awal kuliah, tepatnya saat masa orientasi". 
"Saya tahu itu",sambutnya menimpali. 
Kalimatku dipotong bak seorang penebang kayu yang dengan sekali ayun berhasil menebas dahan.

Ku alihkan pandangan pada lelaki yang sedari tadi begitu khusuk membaca koran. Seolah-olah saat ini sedang tidak ada siapa-siapa. Entah karna memang sangat hobi membaca atau sama sekali tidak tertarik dengan kehadiranku, ia tak hendak bergeming. 

Aku adalah wanita perasa, dari gestur dan sambutan kedua orang tua Mas Tomy terlihat jelas kalau mereka telah mengetahui latar belakang kehidupanku. Seorang gadis yang terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Abah yang seorang supir angkot dan si Mbok pedagang makanan di pasar. Beruntung sekali beliau dianugerahi tiga orang anak yang cerdas dan bersemangat, sehingga mampu menakhlukan universitas bonafid di kota ini. Kami kakak beradik juga sangat bangga pada Abah dan Si mbok. Pendidikan mereka tidak tinggi, tetapi mind set nya bagus. Kedua pahlawan ku ini tak pernah mengeluh didepan kami, hingga terkadang kami lupa, apa itu kemiskinan. 

" Jadiiii...oya, siapa namanya tadi?, oya Vinny ya?" lanjut Sang Mami. 
"Sebetulnya saya sudah dapat cerita panjang lebar tentang kamu dari Tomy. Beruntung sekali kamu bisa berteman dengan anak saya. Hanya saja, kamu harus tahu..dunia tak selalu indah seperti yang kamu fikir. Ok, saya sebentar lagi ada janji dengan relasi. Mari, Pap..". Sambil berdiri dia mengajak suaminya segera berangkat. Lelaki berkaca mata tebal itu segera melipat koran, tanpa melihat kepadaku sedikitpun, mereka berdua berlalu. Angkuh!

Allah..apakah aku sedang berada di alam mimpi? Ataukah ini hanya sebuah shooting sinetron yang sering tayang di televisi?. Sepahit-pahitnya hidupku belum pernah kumerasa dilecehkan seperti ini. Jika waktu bisa diputar dua jam saja kebelakang, ingin ku pegang wejangan si mbok yang melepasku dengan penuh keraguan. Takkan kubiarkan hati dan pendengaranku dirusak oleh kalimat yang sedemikian tajam. Tapi apa mungkin? realitanya saat ini aku sedang berada disini. Di iris dan ditumis.

Ku raih tas tanpa menghiraukan permintaan maaf Mas Tomy. Bahkan ketika ia berusaha mengejar, secepat itu juga ku berlari menuju taksi.

Mbok, aku butuh pelukanmu.

"Aku pulang.. 
Tanpa dendam
Ku terima, kekalahanku
Aku pulang..
Tanpa dendam..
Ku salutkan..
Kemenanganmu.."

Lirik lagu Sheila On Seven seakan tepat mewakili perasaanku saat ini.

Perih!


(bersambung)

Minggu, 26 Juni 2016

Menyulam Luka (2) - Perjalanan bergemuruh



Meskipun perjalanan yang kami tempuh cukup lama, tapi aku memilih tak banyak bicara. Sembari tetap fokus membawa kendaraan Mas Tomy selalu memancing percakapan, kujawab sekenanya saja. Fikiranku berkeliaran kemana-mana.  Pandanganku tak lepas mengikuti setiap jengkal jalan yang terlewati. Kalimat si Mbok kembali terngiang jelas, “Nak, Si Mbokmu ini bahagia ada yang berniat baik meminangmu. Tapi pesan Mbok , pilihlah seseorang yang kelak tak membuat jiwamu lelah menyertainya”. Kalimat si Mbok memang singkat. Tapi aku tahu betul bahwa perempuan pertama yang kucintai ini sedang mengajak untuk berfikir jauh. Beliau sangat menyayangiku, makanya sangat kawatir jika putri sulungnya terluka dan kecewa. Mas Tomy bukan orang biasa, lelaki pintar, baik , terpelajar dan berasal dari keluarga kaya.

Tak terasa kami sudah sampai dipintu gerbang rumah orang tua Mas Tomy.  Melihat bangunan 2 lantai dengan pekarangan  luas yang tertata rapi ini, akan membuat siapapun tahu siapa penghuninya. Taman yang dihiasi berbagai macam bunga semakin terlihat indah dengan lampu dan kolam kecil nan artistik. Jika tiang yang menyangga teras rumah kami hanyalah kayu sederhana, berbeda jauh dengan rumah mirip gedung ini. Kuperkirakan  beton yang berdiri megah itu berdiameter kurang lebih 60cm. Kokoh dan kuat, seolah-olah mengingatkanku , “selamat datang gadis cantik, semoga ini bukan kali pertama dan terakhir kamu berkunjung kesini”.  

Perasaan ku ini tidaklah berlebihan, mengingat cerita orang-orang yang kenal dekat dengan keluarga Mas Tomy. Dikabarkan, kedua orang tua Mas Tomy selalu melakukan seleksi ketat terhadap calon menantu mereka. Adalah tentang Shinta. Seorang gadis kenalan sahabatku yang sampai sekarang masih depresi akibat gagal menikah dengan kakak sulung Mas Tomy. Sebetulnya mereka ‘sekufu’. Sama-sama berasal dari keluarga berada, Shinta juga cantik dan terpelajar. Hanya saja belakangan tersiar kabar, kalau orang tua Mas Tomy berubah fikiran setelah mengetahui kalau Shinta memiliki seorang adik yang cacat mental.  Mereka malu dan khawatir jika nanti ada faktor genetik yang akan menurun pada cucu-cucu mereka. Pernikahan yang sudah didepan mata akhirnya dibatalkan. Demikian juga dengan kakak kedua Mas Tomy, memilih untuk menikah diam-diam dan sampai sekarang tidak pulang ke rumah hanya karna tidak mendapat restu. Pasalnya?, si calon menantu tidak punya pekerjaan. Bagi mereka, menantu perempuan berkarir adalah sebuah kebanggaan.

“Vin, kita sudah sampai”, sapa Mas Tomy lembut. Tatapan mata elangnya seolah-olah bicara, “ jangan gugup, Merpati cantik. Ada kekasihmu disini”. Seketika lamunanku buyar. Kami melangkah berbarengan menuju pintu rumah. Dadaku bergemuruh, degupnya lebih cepat dibandingkan ketika akan menghadapi ujian komprehensif setahun yang lalu.
Dengan basmalah, ku kuatkan kaki untuk melangkah.

(bersambung)

Sabtu, 25 Juni 2016

Menyulam Luka (1)- Ketika Cinta Datang


Luka itu sudah kubalut, tak perih lagi, dan jaringan baru telah terbentuk. Kamu tak usah khawatir, tidak terjadi infeksi, hanya saja sobeknya meninggalkan bekas. Meskipun ku telah berupaya menghilangkannya, tetapi tetap saja sulit dilupa.

Hari ini, dari pulau yang berjarak puluhan kilometer dari kampung halaman, di sebuah gedung mewah berlatarkan pemandangan yang menakjubkan, lirihku ucapkan hamdalah sebagai rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan. Sembari tersenyum sedikit sinis, kuhembuskan nafas perlahan dan berkata, "terimakasih atas torehan perih itu Nyonya!. It's me". Wajah teduh lelaki yang baru seminggu menemani hidupku tiba-tiba sumbringah, ketika erat kurangkul lengannya. Sungguh, janji Allah pasti. Sosok seperti dialah yang kubutuhkan. Menenangkan, bukan menambah lelah jiwa.

***

Lima tahun yang lalu.

"Aku serius mau menikahimu, Merpati cantik.  Tapi sebelum meminang , ku ingin perkenalkan kamu pada Mami. Mau kan?", pinta sahabat yang dua bulan belakangan menyatakan cintanya padaku. Hati perempuan mana yang tak bahagia, merekah, merona bak kelopak mawar ketika lelaki yang selama ini diam-diam dikagumi mau meminang? Andaikan saat itu tiada orang lain, ingin ku berteriak, " Duniaaaaa...aku bahagiaaaa", lalu menari sambil menyanyi, lari-lari kecil dari pohon ke pohon. Sayang, ini bukanlah film India. 

Hari ini ku berdandan cantik. Gaun terindah yang kupunya memang sangat sederhana. Gaji sebagai karyawati di perusahaan swasta tidaklah seberapa, sementara kedua orang tua dan adik-adik juga harus dibiayai, jadi mana mungkin kubisa berlagak seperti gadis-gadis pada umumnya?. Syukurlah, gaun yang kubeli jelang idul fitri tahun kemaren ini masih kelihatan bagus. Sambil memoleskan lipgloss berwarna netral di seulas bibir, aku siap menanti Mas Tomy, mantan senior yang sejak semester dua semasa kuliah dulu sudah mencuri hati.

Sebuah mobil mewah terparkir didepan teras rumah semi permanen kami, tampak sangat kontras sekali dengan pemandangan  disekitarnya. Aku tahu, dikiri kanan banyak tetangga yang ingin tahu. Siapakah gerangan pria necis yang menjemputku?, tapi biar sajalah, nanti mereka juga akan kuberi tahu. Setelah pamit pada si Mbok dan Abah, kami berangkat, semua tentang Mas Tomy juga sudah kujelaskan. Meskipun banyak keraguan yang ku tangkap dari kedua pasang mata orang yang paling kusayang. Tapi beliau mengizinkan dengan sejuta wejangan.

Malam penuh harapan, tapi dari sinilah perih itu dimulai.


#Fiksi

(bersambung)

Selasa, 21 Juni 2016

Sebentuk Kepedulian Apoteker Padang-Pariaman dan Kota Pariaman terhadap bencana 'galodo' di jorong Surantiah

Peyerahan Bantuan pada Wali Nagari untuk korban galodo 
Sejak kepengurusan PC. IAI Padang-Pariaman-Kota Pariaman dilantik september 2015 lalu, yang di ketuai oleh Drs. Yutiardy Rivai, Apt, Apoteker di kabupaten- kota bertetangga ini telah berhasil melaksanakan berbagai kegiatan. Baik itu kegiatan seminar, diskusi ilmiah guna mengupdate ilmu para anggota, temu tokoh, maupun kegiatan-kegiatan lain yang sifatnya positif. Bisa dikatakan, 'gairah' dan sinergisitas itu semakin terasa. Semua bersemangat. 

Rumah rusak berat

Hujan bercurah tinggi sejak sore hari kamis 16 juni lalu telah mengakibatkan bencana galodo (banjir lumpur) di jorong Surantiah  kecamatan Lubuk Alung kabupaten Padang Pariaman. Meskipun dikabarkan tidak ada  korban jiwa, tetapi kerugian materi diperkirakan sangat banyak. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah genangan lumpur, sementara rumah masyarakat sudah rata dengan tanah, meskipun ada tetapi dalam kondisi rusak berat.

Lokasi Rumah Penduduk yang sudah rata dengan tanah

Kondisi bencana ini mendapat perhatian khusus PC. IAI Kabupaten Padang Pariaman- Kota Pariaman, karena memang dalam struktur organisasi cabang, ada bidang Tanggap Bencana dan Pengabdian Masyarakat yang di koordinatori oleh Drs. Masrul, Apt.

Dalam waktu singkat, berkat kerjasama seluruh pengurus dan juga partisipasi berbagai pihak, selasa 21 juni 2016 bantuan telah disalurkan berupa uang tunai, pakaian dan makanan.


Kehadiran kami disambut baik oleh Bapak Suhardi selaku camat Lubuk Alung. Rombongan dipimpin oleh wakil ketua PC. IAI, ibu Dra. Elfi Delita, M. Farm, Apt. Beliau sangat bersemangat sekali, karena sejawat banyak yang berkesempatan ikut, meskipun disela kesibukan yang teramat padat. 


Di dampingi oleh Wali Nagari Lubuk Alung, bapak Hari Subrata, sampailah kami di Posko. Disana kami bertemu para ibu yang semuanya, tidak lagi memiliki tempat tinggal. 
"Rumah kami abih, buk", lirih salah seorang ibu berkata. Wajah sendu dan tatapan duka mereka membuat kami merasa betapa beratnya ujian ini. Sawah yang berumur 3-4 bulan semuanya dipenuhi oleh lumpur, ternak mereka mati. Tak kuasa kami berkata banyak selain memeluk dan berkata : 
" sabar ya, bu.. Semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik." 


Setelah puas bertemu dan menyerahkan bantuan, kami berjalan menuju lokasi. Masyaallah...semua rusak. Menggambarkan betapa dahsyatnya terjangan air malam itu. Dengan sedikit tersengal ibu Jaminar yang kami temui bercerita "saat itu kami sudah pasrah, tidak peduli lagi dengan rumah dan harta benda. Yang penting kami selamatkan nyawa". Allahu akbar..

Sungguh ini bukan kegiatan kepedulian semata, tetapi juga semacam wisata ruhiyah bagi kami. Perjalanan ini membuat kami memahami, betapa musibah, malang dan duka itu sekejap mata. Sebagai manusia kita ini apalah. 



Wali Jorong bapak Syafrudin sangat berterimakasih atas kehadiran kami. Beliau juga mendoakan semoga segala urusan kami dimudahkan Allah. Sedikit bantuan itu sangat berarti bagi mereka. Hanya saja ketika masyarakat tahu bahwa kami adalah Apoteker (Orang Farmasi), mereka mengira kalau bakal ada pelayanan pengobatan. Karna banyak yang mengeluh sakit juga, demam, gatal-gatal dan batuk. Semoga setelah ini ada dari tenaga kesehatan lain yang melakukan pengobatan gratis disini. mereka sangat membutuhkannya. 

Alhamdulillah, meskipun semua rombongan lagi berpuasa, Allah meringankan langkah dan mengirim awan hingga kami tidak merasa lelah dan kepanasan. Indahnya berbagi. 


-17 Ramadhan 1437 H-