Tentang Perjalanan

"Hidup adalah tentang sebuah perjalanan, dimana seseorang yang diam menetap tidak akan bisa berkembang sedangkan yang berpindah-pindah selalu mendapatkan kejutan dari sang pencipta yang membuat kita berbeda dari orang lain."

Tentang Kehidupan

"Jangan takut oleh kemarahan orang sehingga kita takut berkata dan bersikap jujur."

Tentang Kesungguhan

"Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kesungguhan."

Tentang Kebijaksanaan

"Orang bijak menemukan kebijaksanaannya melalui kerasnya kehidupan."

Tentang Kesabaran

"Sejak kita menginginkan kebahagiaan dan kesuksesan, sejak itu pula kesabaran menjadi kewajiban kita."

Selasa, 13 September 2016

Menyulam Luka (6) - Angin Cinta Pantai Natsepa


Hamparan pasir putih dan semilir lembut angin pantai Natsepa membuat rinduku pada si Mbok, Abah dan keluarga di Jakarta semakin mengalun syahdu. Sengaja dari Kayadoe ku mampir kesini sebelum balik pulang ke rumah kontrakan, sekedar untuk mengobati gundah hati. Bukan, bukan karena beratnya pekerjaan, tapi saat ini hatiku begitu merindu. 

"Jaga diri baik-baik ya, Nak. Banyak sabar di negeri orang. Kamu akan hidup sendiri disana, tapi doa si Mbok akan selalu ada untukmu." Tubuh kurus itu mendekapku erat, bulir hangat airmata perempuan tegar ini membasahi bahuku. " Vinny sayang, si Mbok," bisikku di telinganya.

Itu adalah nasehat si Mbok ketika mengantarku ke bandara. Perjalanan 3 jam 55 menit dari Sukarno Hatta ke Bandara Pattimura menyuguhkan kilas balik kisah hidup kami. Ada suka, duka dan tawa canda. Aku tak peduli ketika penumpang yang duduk disebelah memandang heran demi melihatku yang berulangkali menghapus airmata. Sambil menatap gumpalan awan dari balik jendela burung besi ini, kubiarkan imajinasi dan memori bercengkrama. Kuserahkan hidup ini sepenuhnya pada DIA, penguasa alam semesta. Allah!

***
  Tidak terasa sudah sebulan saja ku bekerja di kota ini. Sangat menyenangkan, apalagi ketika ditempatkan pada seksi pengujian mikrobiologi. Cocok sekali dengan tugas akhir yang pernah kugeluti beberapa tahun lalu di kampus. 

Ketika pertama masuk kantor, satu persatu staf dan pejabat disini kutemui untuk memperkenalkan diri. Ada 3 orang CPNS baru. Aku, Nia dan Dwi. Kami diposisikan pada seksi yang berbeda, tetapi sebagai sesama perantauan, kami sangat kompak. Apalagi status kami sama-sama gadis. Nia alumni Universitas Indonesia. Gadis bersahaja dan pintar. Nia itu pendiam, bicara seperlunya saja. Tetapi sekali angkat topik, selalu ada makna dalam setiap kalimatnya. Aku senang punya teman baru seperti dia. Diam-diam sering ku amati kebiasaannya. Kombinasi kecerdasan intelektual dan spiritual melekat pada dirinya. Nia juga sangat menikmati posisinya sebagai staf pada seksi Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen (SERLIK) 

Beda dengan Nia. Dwi sedikit tomboi dan cuek. Mungkin orang-orang di seksi pemeriksaan dan pengawasan heran kenapa ada makhluk secuek itu. Pernah kudengar selentingan gosip kurang enak ketika itu, Dwi diberi julukan si Koboi oleh teman-teman satu seksi. Tapi sikapnya yang ceplas ceplos akan membuat sunyi kontrakan kami jika sekali saja dia tak ada. Daripada Nia, aku lebih banyak cerita berbagai hal pada Dwi. Berteman dengannya mengobati rinduku pada Lina. Sahabat karib semasa di Jakarta dulu. Sekarang dia lagi ngapain ya?, sejak kepergianku ke Ambon adakah Mas Tommy pernah menanyakanku pada Lina ?. Ah, tidak..tidak. Lupakan, Vin!!

"Vinny..," ucapku sopan memperkenalkan diri pada salah seorang staf di seksi SERLIK. Sambil mengulurkan tangan hendak menyalami. Tapi sembari menyebutkan nama pria di depanku ini buru-buru menelungkupkan tangannya, " Saya Al Fadhil, biasa teman-teman disini memanggil Fadhil ". 
Aku tertegun. Sedikit canggung kuturunkan tangan. Meskipun orang-orang seperti ini sering kujumpai ketika di kampus dulu, tapi di dunia kerja sudah jarang yang mempertahankannya. Rata-rata mereka melebur bersama warna-warni pergaulan dengan berbagai alasan yang dibuat-buat. Padahal jika dilihat, ga ada juga tuntutan yang mengharuskan mereka berubah dari sesuatu yang sudah dipahami dengan baik konsepnya dan berbalik seolah-olah mereka tak tahu ilmunya. Tapi sudahlah. Tidak semua juga begitu.  Iman kalau tidak dipupuk memang banyak godaannya. 

Oya, aku ingat..Orang seperti Al Fadhil ini biasanya disebut ikhwan. Tapi jujur, sekali pandang saja, aku bisa menilai, dia bukan sekedar ikhwan, tapi juga menawan. Wajah bersih, berkaca mata dan berjenggot tipis.  Aih, Vinny? Masih percaya dengan cinta pada pandangan pertama?. Alam bawah sadar mengajakku kembali pada pada dunia nyata Ambon Manise. 


(bersambung)

Senin, 05 September 2016

Menyulam Luka (5) - Ambon, I'm Coming



Sebulan yang lalu

"Kamu serius,Vin? bukankah karirmu di perusahaan ini sudah cukup bagus?" Lina berhenti menyedot jus alpokat kesukaannya dan menatap tajam pada Vinny. Dia tak mengerti dengan rencana sahabatnya ini. 

"Jangankan serius, Lin..2 ato 3 juga boleh," gurau Vinny sambil tersenyum. Sepasang lesung pipi terlihat jelas di wajah gadis berkulit putih ini. 

"Oke, sekarang beri aku 3 alasan kenapa kamu memilih untuk ikut tes itu, bukankah nanti penempatannya tersebar di seluruh wilayah NKRI? bagaimana kalau kamu bertugas di Indonesia bagian timur, jauh dari si Mbok dan Abah. Sudahkah kamu pertimbangkan baik-baik, Non?"

Pertanyaan Lina yang bertubi-tubi membuat Vinny tertawa. Wajar saja, mereka sudah bersahabat lama. Perkenalan Vinny dan Lina pertama kali ketika registrasi ulang mahasiswi baru di auditorium Universitas Andalas. Lina berasal dari Bukittinggi, sementara Vinny asli Sunda dan tinggal di Jakarta. Seangkatan, sejurusan, se kost, sama-sama wisuda dan sama-sama di terima bekerja di perusahaan Farmasi ternama di Jakarta. Kebersamaan yang cukup lama itu membuat mereka sudah seperti saudara kembar saja. Jalan-jalan bersama, dan saling berbagi keluh kesah. Ketika Vinny memutuskan untuk ikut tes CPNS dan baru cerita saat akan ujian, terang saja membuat Lina kaget.

" Lin, sepertinya untuk masa depan, aku ngrasa kurang cocok dengan ritme pekerjaan disini. Coba kamu bayangkan betapa sibuknya kita, target demi target yang dibebankan perusahaan sungguh membuatku lelah. Mungkin selama ini kelihatannya aku menikmati pekerjaan ini, tapi sesungguhnya tidak. Kebetulan saja kita masih lajang, bagaimana kalau kita sudah berumah tangga dan punya anak? aku merasa ga bakal sanggup bagi waktu, Lin. Meskipun setiap pekerjaan pasti ada tantangan, tapi aku pengen jadi PNS saja, sepertinya cocok deh buat perempuan seperti kita," ulas Vinny panjang lebar sambil memainkan sedotan di gelas yang berisi lemon tea yang tinggal separuh. 

"Eeeeepppss, kalo kamu sudah menikah dengan Mas Tomy ga perlu kerja lagi, bukan?. Suami setajir itu buat apa kerja?" celetuk Lina seenaknya.

Kucubit punggung tangannya, "Lina manis, masih ingat tidak apa yang kubilang semasa kuliah dulu?"
"Tidak, .." jawab Lina cepat.

"Sahabatku, denger ya baik-baik. Pekerjaan menurutku bukan semata-mata untuk mencari uang. Toh, jika sudah menikah yang wajib menafkahi itu kan suami, bukan istri. Tapi bekerja bagiku adalah sebuah eksistensi untuk mengeksplorasi ilmu yang selama ini kugali, pengabdian profesi dan boleh juga sebagai bentuk konstribusiku untuk negri, kamu paham kan, neng?" panjang lebar kujelaskan alasanku pada gadis bermata minus ini.

"Baiklah..tapi bagaimana dengan Mas Tomy? Bukankah dia serius mau nglamar kamu?" Lina masih penasaran.

"Mas Tomy belum pasti jadi milikku bukan?, jika Allah takdirkan dia suamiku, akan ada jalan keluar, tapi jika tidak, dunia masih terbentang kan kawan?" sambil merentangkan kedua tangan kuberdiri, lalu berjalan menuju kasir kantin. Jam istirahat sudah berakhir. Kami harus kembali ke pekerjaan masing-masing. 

***

Nomer Ujian 40313506776. Nama Vinny Kartika Sari. Penempatan BPOM Ambon. 

Mata ku tak berkedip melihat pengumuman ini. Bahagia dan haru yang kurasa bagaikan hujan yang turun setelah panas berkepanjangan. Segala duka airmata, kecewa dan kecamuk yang kurasakan terobati oleh pengumuman ini. Aku lulus. Aku akan terbang, meninggalkan segala kenangan. Membuka lembaran baru, merajut mimpi di negri Ambon Manise. 

Terima kasih ya, Allah..Engkau selalu punya cara spektakuler untuk menghibur hamba-Mu yang bertahan dalam kesabaran.

Tiiiit....Tiiit..

Sebuah pesan whatsapp masuk ke telfon genggamku 

Bagaimana, Vin? Hasilnya sudah keluar? Mas khawatir kalau kamu lulus.
Diujung pesan disertakan emoticon orang dalam keadaan cemas. 

Alhamdulillah, Mas. Aku lulus. Penempatan di Ambon. Terima kasih
Tanpa emoticon kubalas pesan Mas Tomy datar. 

Sambil melangkah ringan, batinku berbisik  "Engkau masa laluku, Mas. Dan inilah masa depanku"



(Bersambung)




Minggu, 04 September 2016

Menyulam Luka (4) - Berakhir di 00.00 WIB



Taksi sampai di depan rumah. Kulihat lampu masih menyala, meski pintu dan jendela telah tertutup semua. Kulirik jam tangan, pukul 20. 30 WIB. Untuk kesekian kalinya handphoneku bergetar, tapi tak kupedulikan. Sejak naik taksi tadi entah berapakali Mas Tomy menghubungi, pesan yang masuk juga sudah sangat banyak. Tapi takku baca. Buat apa?. Kuseka airmata yang masih saja menetes. Aku tak mau perih ini membias pada orang-orang yang paling kusayang. Si Mbok dan Abah, muara kasihku. 

"Vinny?, kamu sendiri, Nak? Tomy mana?," Si Mbok yang awal kulihat sedang serius merajut begitu terperanjat melihat kehadiranku tiba-tiba. Aku lupa baca salam. Abahpun tak kalah kaget, koran yang sedang dibaca diletakkan begitu saja. Lelaki hebatku ini memang rajin sekali membaca. Beliau update, karena itulah wawasan Abah luas, rasanya jika diskusi dengan orang-orang bersekolahpun Abah takkan kalah. Bahasa beliau halus tapi tegas. Pintar namun bersahaja. 

"Tadi Mas Tomy ada keperluan mendadak, Mbok. Jadi Vinny pulang sendiri," terpaksa kuberbohong. Aku tak mau kejadian tadi jadi beban fikiran Si Mbok dan Abah. Aku juga tak mau tidur beliau terganggu karena hinaan terselubung yang dialami anak gadisnya. Si Mbok dan Abah telah banyak berkorban untuk kami anak-anaknya. Jadi kutak mau berbagi luka. Meskipun sesungguhnya ku ingin melepaskan tangis dalam hangat dekapan si Mbok. Tapi kutahan. 

"Vinny ke kamar dulu, Mbok. Lelah sekali, besok Vinny juga kerja", sambungku sebelum Si Mbok meneruskan pertanyaannya. Agaknya beliau mengerti. Mungkin karena kebersamaan kami 9 bulan lebih dulu dibanding yang lain. Selama dalam kandungan kami sudah berbagi oksigen dan makanan, jadi terang saja aku dan si Mbok bisa bicara dengan bahasa kalbu. 

"Istirahatlah, Nak. Semoga kamu baik-baik saja," jawab si Mbok. Dan akupun langsung menuju kamar. Saat ini aku butuh sendiri. 

Baru saja kurebahkan tubuh, sebuah pesan via whatsapp masuk. 

Assalamu'alaikum. Merpatiku, Mas sekarang dalam perjalanan balik ke rumah. Maaf, tadi Mas sengaja mengikutimu untuk memastikan kalau kekasih Mas sampai di rumah dengan selamat. Seperti pesan yang Mas kirim sebelumnya, Mas sekali lagi minta maaf atas kejadian tadi. Sikap kedua orang tua Mas pasti telah membuatmu sangat terluka. Tapi Mas janji akan terus memperjuangkan cinta kita sampai semua harapan kita terwujud. Bersabar ya, cantik. Istirahatlah..selamat malam. 

Langsung ku reply pesan lelaki yang beberapa bulan belakangan mengisi hari-hariku ini. Aku tahu dia laki-laki baik dan sama sekali tak bersalah, tapi aku juga bukan perempuan bodoh yang mau membiarkan diri dihina. Aku Vinny, gadis miskin anak supir angkot. Tapi aku bukan gadis biasa yang suka memupuk, menyiram dan menari bersama lara. Aku juga bukan orang yang tidak mau berjuang. Tapi bukan memperjuangkan sesuatu yang resikonya memunculkan lelah jiwa berkepanjangan, jangan! Bagiku pernikahan adalah wadah ketenangan. Jika sudah dimulai dengan hiruk, aku yakin di perjalanan nanti akan hadirkan pikuk. Karena bibit bernama angkuh kutemukan jelas dimata Nyonya yang melahirkan Mas Tomy. Ku bergidik membayangkan sorot mata sombongnya. 

Wa'alaikumsalam. Terimakasih atas segalanya, Mas. Jangan khawatir. Aku tak apa-apa. Tak ada yang salah Mas. Apalagi kamu. Mengenalmu adalah sebuah keindahan bagiku. Kamu sangat baik.  Orang tua Mas juga tidak salah, beliau juga sedang memainkan perannya. Wajar saja. Jika ada yang salah, itu adalah aku yang tidak mempertimbangkan wejangan si Mbok ketika berangkat tadi dan tetap mau datang ke rumah, Mas. Demi perih yang kualami, demi harga diri yang begitu penting bagiku, demi masa depanku, demi kebahagiaanku, mohon setelah jam 00.00 WIB nanti, jangan lagi kita membahas tentang hal ini. Aku yakin bisa memformulasi rasa cinta, sakit dan kecewa ini menjadi sediaan obat yang akan mengubah diri dan keluargaku menjadi lebih baik lagi. Mas kenalkan siapa Vinny, bukan?. Bukan gadis cemen. Kita cukupkan sampai disini. Selamat malam, Mas. 

Ku geser kursor ke tanda panah yang akan membawa pesan ini dalam sepersekian detik sampai di handphonenya Mas Tommy. Klik. Kumatikan benda kecil ini. Aku ingin istirahat, melupakan sekeping harapan bersama pria tampan itu. Aku yakin dibawah langit yang sama, seseorang juga sedang mempersiapkan diri untuk menjadi suami yang kelak lebih layak untukku. Siapa, Vin?. Entahlah. Dunia terlalu sayang jika harus diratapi. 


(Bersambung)

Menyulam Luka (5) Ambon, I'm Coming!

Kamis, 11 Agustus 2016

Jangan Lukai Hatinya, Doakan Sajalah..



Wajah lelah itu hanya menunduk, sambil tetap tersenyum. Aku tahu, kalimat yang dilontarkan oleh seseorang barusan begitu membebani perasaannya. 

"Harusnya carilah teman (suami), biar tak lagi sendirian. Mungkin saja dengan demikian penyakit akan sembuh". 

Sebuah kalimat penuh perhatian (barangkali), ketika melihat sahabat yang sudah sangat 'matang' masih hidup sendiri. Katanya 'peduli', tetapi tidakkah ada tempat yang sunyi untuk sekedar menasehati?. 

Kucoba alihkan pembicaraannya, agar tidak diteruskan hingga membuat wajah pucat itu semakin terluka. 

"Minta saja temani sama saudara, Aisyah..takutnya jika di rumah sendiri, lalu tiba-tiba pusingnya kambuh ga da yang tahu", sambil memegang tangannya kupilih kata agar gadis cantik ini tak lagi menunduk. Aku berharap dia paham arti genggaman tanganku lewat bahasa kalbu, " sabar ya, kawan". Ku lihat dia tersenyum, cahaya kembali membinar di bola mata perempuan berjiwa kuat ini.

Engkau cantik kawan, sholehah dan baik budi. Jika saat ini separuh Dien belum tersempurnakan, itu bukan salahmu. Akan ada saat yang tepat dengan skenario spektakuler yang Allah siapkan. Rasaku membatin.

Entah 'semangat' dari mana, yang tadi berceloteh kembali menimpali.
"Beneran, jika sudah ada pasangan, jadi yang nyesek di kepala bisa keluar", sambungnya berapi-api.

Astaghfirullah..

Ingin kumenimpuknya dengan bantal yang ada didekatku, biar ia diam dan tak lagi mengeluarkan kalimat yang sangat tidak sesuai dengan situasi dan kondisi.


***

Skenario hidup manusia itu berbeda-beda. Ada yang lancar jaya bahkan terlihat tanpa halangan. Pendidikan lancar, setelah wisuda langsung kerja, ga berapa lama berselang lalu ketemu jodoh. Sebulan menikah langsung hamil dan ditahun pertama pernikahan sudah punya anak. Ada juga yang tersendat-sendat, tapi tidak di semua bagian pastinya.  Bahkan ada yang tertatih-tatih hingga letih. Tetapi tahu kah kita?, semua yang dijalani tak pernah luput dari pengamatan-NYA.

Dia, Allah yang Maha Kuasa, tak pernah tidur, tak pernah bosan mendengar rintihan-rintihan hamba-NYA. Kasih sayangnya tiada batas. meski terkadang kita selalu bertanya "kenapa?". Padahal Allah yang Maha Tahu, segala yang terbaik untuk kita.

Heeeiii!
Anda siapa?
Menceramahi, melukai, merasa paling tahu?

Sampai dimana pengetahuanmu tentang perih yang menyembilu?
Sampai dimana engkau tahu setiap kegalauan yang menyiksa itu?
Tahukah engkau secara detail permasalahan yang berjibaku?

Jangan tambah lagi luka di hatinya.
Jangan lagi bebani dia dengan pertanyaan-pertanyaan tak perlu,

Cukup doakan, atau bantulah dalam senyap.
Karena tentang iman, Allah penilainya. 



*Bersama Lembayung, Padang 110816


Senin, 01 Agustus 2016

Berapa Lama Sebaiknya Tinggal Di Rumah Orang Tua Setelah Menikah?



Pernikahan, adalah momen yang dinanti-nanti oleh siapapun yang masih lajang atau belum memiliki pasangan. Bagaimana tidak, hidup bersama dalam ikatan pernikahan jauh lebih indah. Beban hidup bisa dipikul bersama, berbagi cerita, suka dan duka. Akan lebih bermakna  lagi jika segala keindahan itu ditujukan semata-mata karena Allah, diniatkan sebagai ibadah, berharap kehidupan yang penuh berkah. Insyaallah..

Menikah, tidak cukup hanya bermodalkan hasrat dan keyakinan semata. Tetapi yang  lebih penting adalah menyatukan visi dan misi rumah tangga yang akan dibangun. Itulah sebabnya, dalam Islam perlu dilakukan proses ta’aruf singkat (bukan berkhalwat), yang salah satu tujuannya adalah mengemukakan visi dan misi tersebut. Diawal perlu disampaikan, Rumah Tangga seperti apa yang akan dibangun, konsepnya bagaimana, langkah kedepannya seperti apa. Jika sudah ditemukan persamaan konsep, silahkan lanjut ke proses khitbah (meminang).

Anda dan orangtua setidaknya terpaut perbedaan usia minimal 17 tahunan. Hidup dizaman yang berbeda dan pastinya akan melahirkan pola pikir yang tak sama. Di dunia, meski kembar identik sekalipun, pasti akan memiliki perbedaan sifat dan sikap. Tak ada yang sama persis. Dalam pernikahan, perbedaan-perbedaan inilah nantinya yang akan melahirkan ‘pergesekan”.

Seminggu dua minggu setelah menikah, adalah masa-masa manis beradaptasi dengan keluarga yang baru saja disatukan. Masih banyak toleransi dan saling memahami.  Jika setelah resepsi pernikahan kita tinggal di rumah orang tua atau mertua, paling lama hanya butuh waktu tiga bulan hingga melahirkan sebuah penilaian. Setelah itu akan muncul ‘ekspresi” dan intervensi. Entah itu tentang basa basi, tatakrama atau hal-hal lain yang bisa saja dikomentari pihak ketiga atau sebaliknya. Itu mutlak ada. Yang berbeda hanyalah cara mengungkapkannya. Ada pihak yang ekspresif, ada juga yang diam tapi sewaktu-watu dapat meledak dan merusak. Apalagi jika di rumah tersebut juga ada saudara ipar dan dan keluarga lainnya. Semakin banyak lah pasang mata yang memandang lalu berkumandang.

Jadi jika anda adalah pasangan muda yang hendak menikah, jika tak ada hal lain yang mengharuskan anda tinggal serumah dengan orang tua ataupun mertua. Segeralah berfikir untuk mencari rumah untuk tinggal berdua. Maksimal 3 bulan setelah pernikahan. Meskipun rumah kontrakan,  itu jauh lebih baik. Karna selain melatih diri untuk lebih mandiri, anda juga  akan lebih mudah mengayuh biduk menuju arah yang disuka.  Kita sendiri yang tentukan. Karena terkadang, justru dengan berjaraklah ikatan kekeluargaan itu terasa kuat. Pastinya, dengan tetap menjaga silaturahim.

Percayalah..begitu akan lebih baik.



Padang, 2 Agustus 2016

Minggu, 31 Juli 2016

Lelah Yang Belum Bermuara (Kisah Dahsyatnya Kasih Sayang Seorang Ibu)



“Antrian nomer berapa, nak?”, sapa perempuan yang baru saja duduk disebelahku. Dari awal masuk pintu ruangan yang begitu sejuk ini, ibu berusia skitar 70 tahunan ini memang telah menarik perhatianku dan mungkin juga orang-orang yang duduk berjejer menanti giliran nomernya dipanggil.

“Nomer 46 B, bu. Klo ibu nomer berapa?”, kubalik bertanya.
“108 A, nak”, jawabnya sembari memperlihatkan kertas kecil hasil print out ketika masuk tadi.

Kami sama-sama sedang antri disebuah bank. Sengaja pulang kantor kulangsung kesini, minta pergantian kartu ATM yang sudah melewati limit waktu. Transaksi perbankan sekarang memang sangat mudah, bahkan  seseorang bisa berkirim uang dari mana saja dan kapan saja dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Praktis, aman dan nyaman.

“Ooo, ibu nanti ke teller ya?. Klo saya ada keperluan sama customer servicenya, bu”, sambungku.
“Iya,nak..ibu mau berkirim uang untuk anak ibu. Dia di Jakarta”, jawabnya tersenyum sambil merapikan jilbab yang sedikit miring hingga anak-anak rambut yang mulai memutih menyembul keluar. Matanya terlihat lelah. Tiba-tiba aku teringat nenek. Kira-kira beliau seusia ibu ini.

Antrian yang cukup lama membuatnya punya kesempatan bercerita. Aku tidak banyak bertanya, hanya saja si ibu menyambung sendiri keterangan demi keterangan. Tiba-tiba ku tersenyum sendiri. Teringat masa-masa yang dilalui. Sejak SMP sampai sekarang  aku sering dijadikan “tong sampah” kisah-kisah. Meskipun tak mengerti apa yang sedang mereka ceritakan, tetapi yang kulakukan hanya lah mendengar. Setelah selesai, mungkin hanya bisa sedikit memberi saran. Itupun jika aku paham. Entah tentang pacar-pacar mereka, kejahatan seksual yang mereka alami atau kisah-kisah rumah tangga dari yang tragis sampai berseri namun penuh duri. Ah..inilah yang namanya hidup. Rangkaian kisah demi kisah yang pasti berakhir. Kadang karena keseringan mendapat cerita inilah yang membuatku sedikit hati-hati dalam segala hal.

“Anak ibu empat orang, 2 pasang. Semuanya merantau. Bapak sudah lama meninggal. Tapi sanak saudara ada disekitar rumah, jadi ibu tak kesepian. 3 orang anak ibu sudah menikah. Semuanya macam-macam perangainya. Mereka sudah berkeluarga tapi sering minta uang pada ibu. Ada-ada saja alasannya. Yang namanya seorang ibu, tentu tak sampai hati kalau anak sudah mengeluh kesusahan. Syukurlah ibu masih mampu berdagang. Sedikit-sedikit uang ibu tabung. Tapi setiap terkumpul, ada saja anak yang membutuhkan”.

Kusimak curhatan ibu ini dengan seksama, sambil menatap bola matanya yang tak lagi jernih. Sekuat atau sebugar apapun beliau, pasti setiap sendi dan organ tubuh telah kurang fungsinya termakan usia. Tapi semangatlah yang membuatnya kelihatan kuat. Seharusnya beliau sekarang telah beristirahat. Setidaknya rehat dari memikirkan kebutuhan anak.  Tapi nyatanya? Lelah belum berakhir.

“ Jadi sekarang ibu mentransfer uang untuk anak ibu yang mana?. Yang suaminya pengangguran, atau anak lelaki ibu yang sakit itu?”, kali ini aku yang penasaran.

“Bukan, kalau mereka bulan lalu sudah ibu kirim sedikit uang. Kali ini ibu  mau memasukkan uang ke rekening anak ibu yang bungsu. Sebetulnya dia sudah bekerja dan tidak meminta. Tapi ibu tahu, berapalah gaji sebagai pelayan toko. Dia anak bujang. Ibu kasihan. Dia tak mau sebetulnya ibu kasih uang, tapi ibu merasa tak adil, kakaknya yang telah berkeluarga saja ibu bantu. Tapi dia tidak pernah. Ibu takut nanti dikemudian hari dia mengumpat pada ibu”, sambungnya.

Allahu akbar", desisku membatin. Sebetulnya hatimu terbuat dari apa, bu?. Susah payah engkau membesarkan mereka sampai akhirnya semua beranjak dewasa, bahkan telah berkeluarga. Dan sekarang, semua keluhan mereka engkau tampung dan fikirkan?. Bukankan sekarang anak gadismu sudah bersuami dan punya tanggung jawab penuh padanya? Dan bukankah anak lelakimu sudah tumbuh kekar dan punya bekal kaki dan tangan untuk mengais rezeki yang tersimpan dibumi atau menggantung dilangit?, lalu kenapa masih bersandar pada tubuh renta yang setiap hari harus menjual sayur dan kelapa?

Mungkin nasib itu berbeda-beda. Tetapi sebagai anak, jika telah dewasa apalagi telah berkeluarga, usahakanlah untuk tidak menceritakan kesusahan pada orang tua. Jika tiada bisa memberi tak apa-apa. Tetapi ceritakanlah hal-hal bahagia saja. Karena sudah menjadi fitrah orang tua memikirkan anak sepanjang hayatnya.

Kugenggam tangan si ibu yang mulai keriput, kukatakan “ sabar ya, bu..Allah tahu betapa dalamnya kasih sayang ibu pada mereka. Jaga kesehatan ibu”.

“Makasih, Nak. Anak ibu ini Bidan ya?”, tanyanya sambil mengamati seragam putih yang kukenakan.

“Tidak, bu..Saya Apoteker. Bagian Obat”, kupilih kata yang mengundang anggukan dan senyumnya tanda mengerti.

***
NOMER ANTRIAN 46B, CS 2. Melalui pengeras suara giliranku dipanggil. Setelah pamit pada ibu tadi, aku melangkah gontai menuju meja CS. Menarik nafas dan melepaskannya perlahan.





Senin, 27 Juni 2016

Menyulam Luka (3) - Perih!



"Ini Vinny, Mi.. Pi",  Mas Tomy memperkenalkanku santun. Dengan sopan kutersenyum pada mereka sambil mengulurkan tangan. Belum sampai disambut, Maminya Mas Tomy cepat-cepat mempersilahkan duduk. Sementara Papinya tak mengalihkan pandangan sedikitpun dari koran yang sedang dibaca. Aku sedikit linglung. Sejenak suasana hening. Yang terdengar hanyalah detak jarum jam yang mengiringi irama degup jantungku. 

Sesungguhnya perasan gugup seperti ini bukanlah karakter seorang Vinny. Aku adalah seorang gadis periang dan penuh percaya diri. Dulu di kampus, aku cukup dikenal. Selain seorang aktivis, Si Mbok juga mewariskan raut cantik di wajahku. Setidaknya begitulah kata teman-teman. Hanya saja, karna beban dan pahitnya hidup yang kerap mendera, Si Mbok ku kelihatan lebih tua dari usianya. Jika dibandingkan dengan wanita lima puluh tahunan dihadapanku ini, tentu dia kelihatan lebih cantik, terawat pastinya.

Tak biasa ku diperhatikan sedetail ini. Tatapan Maminya Mas Tomy seolah-olah sedang mengamati kemasan biskuit di swalayan. Dilihat tanggal kadaluarsanya, komposisinya dan bila perlu izin produksinya. Ya, Allah...sedang berada dimana aku ini, batinku. Jam dinding seakan rusak, seolah waktu tak bergerak.

"Sudah lama mengenal, Tomy?", tanya sang Nyonya
"Vinny, Mi..", sela Mas Tomy. Aku tau Mas Tomy mulai risih dengan sikap kedua orangtuanya.
Tanpa menunggu koreksi, ku jawab saja , " Mas Tomy senior saya, Tante. Kami dulu kuliah di jurusan yang sama. Saya kenal Mas Tomy sejak awal kuliah, tepatnya saat masa orientasi". 
"Saya tahu itu",sambutnya menimpali. 
Kalimatku dipotong bak seorang penebang kayu yang dengan sekali ayun berhasil menebas dahan.

Ku alihkan pandangan pada lelaki yang sedari tadi begitu khusuk membaca koran. Seolah-olah saat ini sedang tidak ada siapa-siapa. Entah karna memang sangat hobi membaca atau sama sekali tidak tertarik dengan kehadiranku, ia tak hendak bergeming. 

Aku adalah wanita perasa, dari gestur dan sambutan kedua orang tua Mas Tomy terlihat jelas kalau mereka telah mengetahui latar belakang kehidupanku. Seorang gadis yang terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Abah yang seorang supir angkot dan si Mbok pedagang makanan di pasar. Beruntung sekali beliau dianugerahi tiga orang anak yang cerdas dan bersemangat, sehingga mampu menakhlukan universitas bonafid di kota ini. Kami kakak beradik juga sangat bangga pada Abah dan Si mbok. Pendidikan mereka tidak tinggi, tetapi mind set nya bagus. Kedua pahlawan ku ini tak pernah mengeluh didepan kami, hingga terkadang kami lupa, apa itu kemiskinan. 

" Jadiiii...oya, siapa namanya tadi?, oya Vinny ya?" lanjut Sang Mami. 
"Sebetulnya saya sudah dapat cerita panjang lebar tentang kamu dari Tomy. Beruntung sekali kamu bisa berteman dengan anak saya. Hanya saja, kamu harus tahu..dunia tak selalu indah seperti yang kamu fikir. Ok, saya sebentar lagi ada janji dengan relasi. Mari, Pap..". Sambil berdiri dia mengajak suaminya segera berangkat. Lelaki berkaca mata tebal itu segera melipat koran, tanpa melihat kepadaku sedikitpun, mereka berdua berlalu. Angkuh!

Allah..apakah aku sedang berada di alam mimpi? Ataukah ini hanya sebuah shooting sinetron yang sering tayang di televisi?. Sepahit-pahitnya hidupku belum pernah kumerasa dilecehkan seperti ini. Jika waktu bisa diputar dua jam saja kebelakang, ingin ku pegang wejangan si mbok yang melepasku dengan penuh keraguan. Takkan kubiarkan hati dan pendengaranku dirusak oleh kalimat yang sedemikian tajam. Tapi apa mungkin? realitanya saat ini aku sedang berada disini. Di iris dan ditumis.

Ku raih tas tanpa menghiraukan permintaan maaf Mas Tomy. Bahkan ketika ia berusaha mengejar, secepat itu juga ku berlari menuju taksi.

Mbok, aku butuh pelukanmu.

"Aku pulang.. 
Tanpa dendam
Ku terima, kekalahanku
Aku pulang..
Tanpa dendam..
Ku salutkan..
Kemenanganmu.."

Lirik lagu Sheila On Seven seakan tepat mewakili perasaanku saat ini.

Perih!


(bersambung)